A+ A A-

Sabtu, 11 Juli 2015/ Berbagai lintas Komunitas dan tokoh di Surabaya kali ini melaksanakan Bagi Takjil dan Buka Bersama di Tunjungan. Trotoar di depan Hotel Majapahit menjadi tempat pertemuan mereka menyapa masyarakat. Kegiatan ini rutin dilaksanakan saat bulan puasa.

Nidia Nailufar, ketua panitia mengatakan, "Kali ini komunitas Tunjungan Ikon Surabaya, , PRB, Bidadari, Museum Kanker Indonesia-YKW, Yayasan Jiwa Indah Bangsa, Hidroponik Surabaya, Pelangi, Tokoh Budayawan Cak Ananto Sidohutomo, Cak Agus dari Layang-layang Surabaya, Cak Yoyok Salim, Cak Arafat, Ning Mila Machmudah dari Pelangi, Ning Dea dari Pemuda Pelopor Kota Surabaya bergandengan tangan menyiapkan lebih dari 700 paket takjil dan buka bersama."

Terlihat sibuk dan hilir mudik, Ririe Suhadi yang juga presiden Bidadari nampak bersemangat melakukan koordinasi bersama kawan-kawan dari komunitas lainnya. "Kawan-kawan ini memang luar biasa ihlas dan baik hati. Saya sendiri juga heran, dari waktu ke waktu dukungan dari masyarakat semakin besar untuk acara ini.

Ketua komunitas Tunjungan Ikon Surabaya, Rachmad Utojo Salim yang lebih akrab dipanggil Cak Yoyok menjelaskan bahwa acara ini memang rutin dilakukan sekaligus sebagai pengganti acara Ngamen tiap Minggu yang hampir selama tiga tahun ini rutin dilaksanakan di Tunjungan. Acara ini juga akan dilakukan lagi pada tanggal 11 Juli 2015. Sedangkan tanggal 26 Juli 2015 berbagai komunitas di Surabaya bersepakat akan melaksanakan Halal Bi Halal pada Minggu pagi jam 6-9 di Tunjungan.

Ditemui terpisah, Andreas Eko M. yang akrab dipanggil Mas Leo dan Cak Roy, keduanya dari bidang pengamanan lalin dan bagi takjil bersepakat bahwa acara kali ini lebih tertib dan lancar dibandingkan sebelumnya yang dilaksanakan tanggal 27 Juni, 4 Juli 2015, maupun tahun 2014, juga tahun 2013 yang selalu menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Cak Ananto, budayawan yang bersama kawan-kawan menggagas Tunjungan Ikon Surabaya menyampaikan pula, "Senang rasanya hati ini melihat semangat gotong royong dan kerukunan dari Arek-arek Surabaya. Memang semestinya begitulah ciri khas karakter Arek Surabaya. Sebagian dari mereka ngamen menghibur, sebagian lagi menyiapkan dan membagi paket takjil dan buka, sebagian lagi mengamankan kelancaran lalu lintas. Semuanya mereka lakukan sambil bersenda gurau dan tersenyum riang. Surabaya bisa hebat dimulai dari kawan-kawan lintas komunitas ini."

Menambahkan tentang rencana tanggal 26 Juli 2015 nanti, Andrea Eko Mulyanto yang akrab dipanggil mas Leo menuturkan, "Selain Halal Bi Halal, kawan-kawan juga berencana untuk melaunching 'Forum Relawan Surabaya'. Forum ini akan menjadi tempat berhimpunnya pada Relawan Kota Surabaya maupun berbagai komunitas. Sedangkan tempat mereka berkantor nanti disebut 'Halte Relawan'. Semacam kesekretariatan bersama hingga mereka dapat saling berkoordinasi dan membantu."

Kategori/rubrik Peristiwa

OPENING ROADSHOW PEMILIHAN CAK DAN NING SURABAYA TAHUN 2015

“ THE RISE OF SAWUNGGALING” DI CFD JL. TUNJUNGAN

Surabaya, 12 April 2015 -  Duta Wisata yang ada di kota Surabaya yaitu Cak dan Ning Surabaya pada hari Minggu 12 Aprl 2015 mengadakan Grand Opening Roadshow Pemilihan Cak dan Ning Surabaya tahun 2015 di Car Free Day Jl. Tunjungan. Dengan mengusung tema pemilihan tahun ini yaitu “The Rise Of Sawunggaling” Paguyuban Cak dan Ning Surabaya bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya ingin melahirkan Cak dan Ning yang tidak hanya mempromosikan pariwisata kota Surabaya saja tapi juga aktif dalam segala kegiatan – kegiatan baik kegiatan sosial, kegiatan bernuansa budaya, lingkungan, dan mampu bersinergi dengan Masyarakat sekitar. tentunya juga sosok “Sawunggaling” sebagai tokoh ternama babad alas kota Surabaya yang mempunyai jiwa besar, berani, dan tangguh menghadapi segala macam kondisi di tengah-tengah masyarakat.

Ketua Pimpro Pemilihan Cak dan Ning Surabaya 2015 (Cak Setiawan) mengatakan bahwa Grand Opening Roadshow Pemilihan Cak dan Ning Surabaya yang dipusatkan di Car Free Day Jl. Tunjungan ini akan menampilkan performance akustik dan juga akan berkolaborasi dengan Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya (TIS) yang telah dua tahun lebih mengawal gagasan Tunjungan sebagai Ikon Kota Surabaya. Selain performance bermain musik akustik di Car Free Day Jl. Tunjungan, para cak dan ning surabaya dari Paguyuban Cak dan Ning Surabaya dengan menggunakan pakaian Hempag (Hem Paguyuban) juga menyebar brosur tentang Pemilihan Cak dan Ning Surabaya juga sekaligus membuka booth untuk Pengambilan Formulir Pendaftaran Cak dan Ning Surabaya.

Roadshow Pemilihan Cak dan Ning Surabaya ini akan berlangsung hingga tanggal pertengahan bulan April – pertengahan bulan Mei 2015. Roadshow ini akan berlangsung juga minggu depan tanggal 19 April 2015 di Car Free Day Jl. Darmo, tidak hanya di Car Free Day saja Roadshow Pemilihan Cak dan Ning Surabaya 2015 ini akan berkunjung ke Universitas – Universitas yang ada di Kota Surabaya. sedangkan untuk Pengambilan Formulir dan Pengembalian Formulir Pendaftaran Cak dan Ning Surabaya tahun 2015 in dimulai dari tanggal 20 April – 20 Mei 2015 di TIC (Tourism Information Center) Kompleks Balai Pemuda Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya. persyaratan cukup mudah Ber-KTP Surabaya, usia 17 – 24 Tahun, belum menikah, tidak pernah mengikuti Pemilihan Duta Wisata lainnya.

Untuk Info mengenai Pemilihan Cak dan Ning Surabaya, baik tentang Acara Roadshow, Pendaftaran, Pengambilan dan Pengembalian Formulir bisa di check di Media Sosial Facebook Cak dan Ning Surabaya, Twitter @CakNingSBY. IG CakNingSby, atau bisa mengubungi PIC roadshow dengan Cak Nizar (081233090018), untuk PIC Pendaftaran dengan Cak Mijil (085732026412) dan Ning Ines (085606628860).

Ditemui saat acara berlangsung meriah, Cak Ananto Sidohutomo, budayawan menyatakan bahwa "Tradisi tahunan pemilihan Cak Ning Surabaya adalah bentuk penghargaan dan pencapaian bagi generasi muda Surabaya yang telah berjuang maksimal menjadi patriot Surabaya seutuhnya. Sebuah mimpi indah tentang proses panjang menjadi tokoh generasi muda yang baik. Kita Arek-arek Surabaya akan tetap mendukung dan mengawal perjuangan mewujudkan impian generasi muda yang baik ini."

Kategori/rubrik Pariwisata/budaya

PENYAIR MBELING NGAMEN DI TUNJUNGAN

Puluhan orang duduk di badan jalan Tunjungan, Surabaya di depan Hotel Majapahit. Mereka menyimak penampilan pembacaan puisi yang dilaksanakan di atas trotoar. Minggu pagi, 4 Januari 2015 adalah saat pertama kali Ngamen Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya (TIS) di tahun ini.

 

Muhammad Robby Binnur (21 th) dikenal sebagai “Cak Robby, Penyair Mbeling” tampil habis-habisan. Intonasi, ekspresinya dan materi puisi yang berjudul “Bocah Sarungan” meski bernuansa religius memang mbeling, apalagi dibawakan dengan menunjukkan karakternya yang khas.

 

Sambil menyeka peluh Robby mengatakan, ““Puisi ini tentang anak kecil yang hari harinya tiada seorang pun menggubrisnya, padahal diam-diam anak kecil itu rajin ibadah.” Syair puisi itu memang nylekit, dan bersama dengan sekitar 200 puisi lain akan direalisasikan menjadi buku religius meski masih memerlukan waktu.

 

Rachmad Utojo Salim yang biasa dipanggil Cak Yoyok, ketua TIS menyampaikan salut terhadap penampilan Cak Robby. Keduanya sempat mendiskusikan puisi itu bersama penonton yang lain. Sedangkan Ananto Sidohutomo, budayawan yang selalu ikut pada acara itu juga mengacungkan ke dua jempolnya ke atas.

 

Inilah puisi yang menjadi andalan saat ngamen di jalanan hari ini.

Bocah Sarungan

Negri yang konyol ini surgamu

Sampah sampah yang berserakan semestinya dirimu yang menyapu

Rokok mu,

Taruh asbak dalam sakumu

Anak anak kecil di pinggir jalan entah ngemis atau loper Koran

Juga saudaramu,

Bocah dengan ketidak jelasan arah

Tanpa di perintah,

Namun sandalnya selalu di lepas, di buang entah kemana 

Sedangkan Musa sendiri melepas sandal setelah aba aba

Itupun Musa masih bingung, “oh ada apa dan mengapa wahai Tuhanku?”

Tapi bocah bocah itu…

Melepas ikhlas, membuang jauh tak terhiraukan

Hari harinya comot,

Hari harinya  rusuh, 

Hari harinya kumuh …

Bahkan ada yang berteriak “Ohhh… dasar kemprooo … siapa orang tuamu ??? … enyah .. 

kau tak layak di hadapanku… !!!” 

Melesat kepala tertunduk pilu

Tiba malam… diam diam …

Kian malam… semakin diam …

Percikan air wudluh mengalir membasuh rusuh

Sarung bolong di kenakannya dengan lucu, 

Takbir melorot, rukuk melorot, bangkit melorot kembali 

 

Sampai Tuhanpun nyelorot dari langit 

Merapikannya sendiri, dan berbisik keras… keras sekali ….

Nyaring dalam hati …

“Aku orang tuamu, kurapikan sarungmu… aku akan meninggikan derajatmu,

Akan kutinggikan kedudukanmu, akan kutiupkan cahaya di ubun ubunmu, sehingga seluruh 

manusia mencintaimu dan yang menghinamu akan tertunduk malu” 

 

 

Kategori/rubrik Lebih Dekat

LAGU BARU UNTUK NGAMEN DI TUNJUNGAN

(Minggu, 4 Januari 2015). Ratusan orang yang memenuhi jalanan Tunjungan, Surabaya di depan Hotel Majapahit menghentikan kegiatannya sejenak untuk menyimak lagu yang dibawakan secara mencolok dari trotoar. Seperangkat sound system portable, Gitar, Chajon, Tamborine, serta Harmonika menyita suasana yang masih sejuk.

Rachmad Utojo Salim, ketua TIS yang dikenal dengan panggilan Cak Yoyok sengaja menampilkan lagu barunya di acara ngamen pagi itu. Seniman yang memainkan terampil Gitar, Harmonika dan memiliki karakter suara yang khas ini sedang mengaktualisasikan perasaan terhadap lagu yang diciptakan. “Karena rasa prihatinku terhadap terkikis dan tergerusnya budaya kita daerah ditengah kemajuan.” imbuhnya.

Cak Yoyok juga menuturkan, “Saya yakin, dengan adanya acara Ngamen gawe Njejegno Tunjungan Ikon Surabaya ini masyarakat akan lebih bergairah untuk membudayakan jiwa raganya, juga akan bermanfaat dan sangat berefek positif kedepannya.”

 

Judul lagu yang dibawakannya. "Seni ,dialek khas dimana?

Kota ku indah dan permai

Terhampar hijau taman kotanya .
Gedung-gedung yang tinggi menjulang ...
Hutan beton dan rimba kaca layaknya ...

Kota ku kini telah maju ..
Layaknya kota-kota Dunia ...
Gaya hidup nan modern ..
Telah jadi miliknya ..

Namun aku sungguh bersedih ..
Saat tak tak kudengar lagi
Seni budaya .. Dimana
Dialek khas pun malu-malu diucapkan ...

Kotaku kini tenggelam ..
Ditelan ombak kemajuan
Seni budaya telah hilang
Seni budaya daerah telah terlupakan .......

Jula-juli bintang tujuh wong sing ngidung ..
Arek Suroboyo ...
Jaman canggih jaman wis maju seni budoyo ...
Ojo dilali' no
Mangan bubur santene klopo ,
Nggowo gelali nang wonokromo
Ayo dulur ayoo kanca, ojo lali karo budoyo ....

 

Ngamen rutin Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya (TIS) di awal tahun ini telah menyemarakkan Kota Surabaya kembali. Kegiatan ini telah hampir 2 (dua) tahun dilaksanakan tiap hari Minggu pagi sejak digagas untuk “Njejegno Tunjungan dadi Ikon Surabaya” tutur Ananto Sidohutomo, budayawan yang juga dikenal sebagai salah satu pencetus ide ini bersama Arek-arek Suroboyo lainnya.

 

Kategori/rubrik Lebih Dekat
© Copyright 2013 portaljatim.com, All Rights Reserved | Designed by: Jasawebsite.com