A+ A A-

 

16/09'15. Dua belas orang merayap menaiki tangga vertikal sampai di Menara Bendera Hotel Majapahit. Mereka adalah Ananto Dkk yang malam ini akan mengadakan Gladi Bersih Monolog Pertempuran Bendera 19 September 1945. Setibanya di roof-top, mereka segera melakukan aktifitas gladi bersih sekaligus saling berkoordinasi.

            Ananto Sidohutomo, Budayawan yang juga seorang dokter untuk ketiga kalinya akan melaksanakan “MONOLOG PERTEMPURAN BENDERA 19 SEPTEMBER” di Situs Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit Surabaya, Sabtu, 19 September 2015, pukul 20.00-21.00. Ini membuktikan bahwa komitmennya untuk kegiatan ini secara konsisten akan dilaksanakan terus.

            Dibandingkan tahun sebelumnya, angin yang kecepatannya saat ini dapat mencapai 35-40 km/ jam tentu menjadi kendala serius yang mesti dihadapi. Saat Gladi bersih yang dilaksanakan Rabu malam, 16 September 2015, dengan posisi tubuh miring masih relatif dapat mempertahankan berdiri dengan baik, namun bila tubuh tegak akan membuat terhuyung dan terangkat sesuai arah angin.

            Saat berkegiatan tersebut, Ananto menjaga diri mengikatkan tubuhnya dengan tali menjadi satu dengan tiang bendera Merah-Putih. “Tali ini menjaga keselamatan supaya tidak terlempar karena derasnya angin, sekaligus membuat perasaan saya menjadi lebih tenang karena merasa menyatu dengan Bendera Merah Putih yang berkibar,” ujarnya.

            19 September, sejatinya kita memperingati dan mengenang nilai-nilai kepahlawanan yang ditunjukkan Arek-arek Surabaya yang berani mengorbankan jiwa raganya dengan bertempur melawan Sekutu. Kisah ini dikenal sebagai pertempuran pertama-kalinya pihak Republik Indonesia melawan agresor asing yang ingin menduduki wilayah RI pada 70 tahun silam.

            Kejadian ini menunjukkan bahwa Arek-arek Surabaya dari berbagai latar belakang masyarakat, pendidikan, profesi, status telah berhasil kompak untuk memberi inspirasi dan contoh kepada seluruh rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Pertempuran bendera ini diikuti pertempuran lain di seluruh wilayah RI untuk mengusir musuh, seperti pertempuran 28, 29, 30 Oktober dan 10 Nopember 1945 di Surabaya, Palagan Ambarawa, Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, Bandung Lautan Api, Pertempuran Medan Area, Pertempuran Margarana di Bali, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang dan Pertempuran Lima Hari di Semarang.

            Pertempuran ini terjadi karena pihak Agresor Asing mengibarkan bendera mereka di wilayah kedaulatan RI. Arek-arek Surabaya tidak terima dan marah, lalu bertempur, menurunkan bendera mereka, merobek warna biru dan mengibarkan Sang Saka Merah-Putih (Sang Dwi Warna). Saat itu dikenal sebagai pertempuran bendera yang selanjutnya dikenal pula dengan nama pertempuran “Insiden Bendera”. Lokasi pertempuran menaikkan bendera merah-putih itu berada di Situs Menara Bendera sisi Utara Yamato Hoteru (sekarang Hotel Majapahit) di Jl Tunjungan 65, Surabaya.

            Monolog oleh Ananto yang juga sastrawan di Situs Menara Bendera sisi Utara Hotel Majapahit itu memiliki tantangan ekstrem lain. Menara Bendera itu sendiri terletak di ketinggian lebih 20 m dpl (dari permukaan laut), memiliki ruang gerak (block) hanya 0,8m X 2m. Kesulitan lainnya adalah faktor berangin kencang rerata 40 km/ jam serta dapat secara mendadak menjadi 60 km/ jam. Ketinggian dan sulitnya mempertahankan posisi berdiri tentu menimbulkan perasaan gamang.

Ananto mengakui beratnya tantangan melakukan monolog tersebut. ”Monolog sebagai bagian dari seni peran teater saja sudah merupakan tantangan berat tersendiri, paling tidak harus dapat mengalahkan diri sendiri untuk melakukannya, apalagi dilaksanakan di medan yang ekstrem tinggi seperti itu, perlu pengamanan ekstra”.

            Sebagai gambaran penampilan monolog yang sama oleh dr Ananto tahun lalu, hasil dokumentasi para fotografer baik penghobi, professional dan media, arah kibaran bendera berubah terus hingga menghadap ke enam arah. Dari rekaman video juga dapat disaksikan gerak refleks yang harus dilakukannya ketika terpaksa berpegangan pada tiang bendera karena hembusan angin kencang yang menerpa tubuh. “Karena itu selain harus menguasai materi monolog itu sendiri kru juga memperhatikan betul faktor keamanan di area monolog agar pergelaran lancar dan sukses. Ini tantangan yang makin membuat saya semangat melakukannya,” katanya.

            Tentang komitmen melakukan monolog tersebut, Ananto menjelaskan jika niat utama menggelar acara ini adalah untuk membangkitkan kembali nilai-nilai patriotisme dan kepahlawanan, semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang berprinsip mempertahankan NKRI dan Pancasila. “Selain itu juga mentransformasikan nilai-nilai keindahan dari perjuangan, kerelawanan, dan patriotisme  Arek-arek Surabaya. Momen ini harus terus diingatkan kepada generasi sekarang dengan berbagai cara agar makin dimaknai nilainya, sehingga ke depannya juga tetap akan terpatri di hati masyarakat,” terang suami dari dr Etty HK, SpPA. itu.

            Bila dikaitkan dengan sejarah bangsa, Ananto mengatakan jika kita dan generasi penerus perlu belajar dari sejarah yang benar dan apa adanya. “Sebab bila keliru memaknai sejarah, kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang maju. Hanya bisa berkali-kali tergelincir dan jatuh di lubang yang sama. Musuh terberat kita bukan yang dari luar sana, melainkan dari dalam diri kita sendiri,” katanya.

            Saat monolog, bapak empat anak ini didukung penampilan beberapa musisi muda seperti Muhammad Alim A. (17 th) yang saat usia 15 tahun telah menciptakan lagu Ibu Pertiwi, Fileski (biolist musikalisasi puisi), Rachmad Utojo S (seniman), Bokir G. Kalaribu (seniman), Deanandya, Arif A, Ariq A., Panji Walujo. Mereka memainkan komposisi baru karya sendiri dan berkolaborasi dengan Ananto.

            Ananto saat tampil ternyata melibatkan pula seluruh keluarganya, istri dan ke empat anaknya. Mereka semua bahu membahu membantu terlaksananya acara ini. “Salah satu nilai yang penting adalah kenyataan bahwa budaya itu berasal dan berawal dari keluarga kita. Merekalah yang menjadi satu alasan penting bagi saya melakukan monolog ini. Tentulah demi masa depan generasi penerus bangsa,” katanya mantab.

            Atas terselenggaranya acara ini, Ketua Panitia Bobbin Nila PY, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung. Terutama pihak Hotel Majapahit Surabaya yang sudah tiga kali menyilakan lokasi bersejarahnya menjadi ajang pergelaran yang bernilai sejarah itu. “Saya mengimbau pada Arek-arek Surabaya untuk ikut datang menyaksikan acara sekaligus mengenang pertempuran “Insiden Bendera” di Jl Tunjungan. Jika tak keberatan kami mengharapkan untuk membawa bendera atau atribut merah putih serta berpakaian rakyat saat itu, ketika acara monolog digelar,” tandasnya.

 

Catatan:

Bendera adalah Simbol Negara, kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa pada sebuah wilayah.

Di dunia telah banyak perang yang dilakukan dengan simbol bendera yang dikibarkan di sebuah wilayah yang berhasil diduduki. Contoh pertempuran di Iwo Jima: lebih 20 ribu tentara Amerika tewas dan terluka, sedangkan 20 ribu tentara Jepang tewas. Sampai saat ini bangsa Amerika merayakan pesta kemenangan bangsanya dengan memperingati hari tersebut. Kenangan terhadap pertempuran tersebut adalah momentum saat perjuangan beberapa prajuritnya mencoba mengibarkan bendera di wilayah negara lain tersebut.

Surabaya memiliki peristiwa PERTEMPURAN BENDERA yang juga patut diperingati dan memiliki nilai patriotisme dan kepahlawanan yang lebih baik. Seharusnya dengan lebih gegap gempita mengingat dilakukan untuk mempertahankan eksistensi bangsa kita dan diakhiri dengan kemenangan yang ditandai dengan berkibarnya Merah Putih saat pertempuran tersebut di wilayah kita yang diserang agresor asing.

 

Monolog Pertempuran Bendera ini disiarkan langsung oleh Prima Radio 103,8 FM, 19 September 2015, jam 20.00 s/d 21.00.

Kategori/rubrik Peristiwa

Sabtu, 11 Juli 2015/ Berbagai lintas Komunitas dan tokoh di Surabaya kali ini melaksanakan Bagi Takjil dan Buka Bersama di Tunjungan. Trotoar di depan Hotel Majapahit menjadi tempat pertemuan mereka menyapa masyarakat. Kegiatan ini rutin dilaksanakan saat bulan puasa.

Nidia Nailufar, ketua panitia mengatakan, "Kali ini komunitas Tunjungan Ikon Surabaya, , PRB, Bidadari, Museum Kanker Indonesia-YKW, Yayasan Jiwa Indah Bangsa, Hidroponik Surabaya, Pelangi, Tokoh Budayawan Cak Ananto Sidohutomo, Cak Agus dari Layang-layang Surabaya, Cak Yoyok Salim, Cak Arafat, Ning Mila Machmudah dari Pelangi, Ning Dea dari Pemuda Pelopor Kota Surabaya bergandengan tangan menyiapkan lebih dari 700 paket takjil dan buka bersama."

Terlihat sibuk dan hilir mudik, Ririe Suhadi yang juga presiden Bidadari nampak bersemangat melakukan koordinasi bersama kawan-kawan dari komunitas lainnya. "Kawan-kawan ini memang luar biasa ihlas dan baik hati. Saya sendiri juga heran, dari waktu ke waktu dukungan dari masyarakat semakin besar untuk acara ini.

Ketua komunitas Tunjungan Ikon Surabaya, Rachmad Utojo Salim yang lebih akrab dipanggil Cak Yoyok menjelaskan bahwa acara ini memang rutin dilakukan sekaligus sebagai pengganti acara Ngamen tiap Minggu yang hampir selama tiga tahun ini rutin dilaksanakan di Tunjungan. Acara ini juga akan dilakukan lagi pada tanggal 11 Juli 2015. Sedangkan tanggal 26 Juli 2015 berbagai komunitas di Surabaya bersepakat akan melaksanakan Halal Bi Halal pada Minggu pagi jam 6-9 di Tunjungan.

Ditemui terpisah, Andreas Eko M. yang akrab dipanggil Mas Leo dan Cak Roy, keduanya dari bidang pengamanan lalin dan bagi takjil bersepakat bahwa acara kali ini lebih tertib dan lancar dibandingkan sebelumnya yang dilaksanakan tanggal 27 Juni, 4 Juli 2015, maupun tahun 2014, juga tahun 2013 yang selalu menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Cak Ananto, budayawan yang bersama kawan-kawan menggagas Tunjungan Ikon Surabaya menyampaikan pula, "Senang rasanya hati ini melihat semangat gotong royong dan kerukunan dari Arek-arek Surabaya. Memang semestinya begitulah ciri khas karakter Arek Surabaya. Sebagian dari mereka ngamen menghibur, sebagian lagi menyiapkan dan membagi paket takjil dan buka, sebagian lagi mengamankan kelancaran lalu lintas. Semuanya mereka lakukan sambil bersenda gurau dan tersenyum riang. Surabaya bisa hebat dimulai dari kawan-kawan lintas komunitas ini."

Menambahkan tentang rencana tanggal 26 Juli 2015 nanti, Andrea Eko Mulyanto yang akrab dipanggil mas Leo menuturkan, "Selain Halal Bi Halal, kawan-kawan juga berencana untuk melaunching 'Forum Relawan Surabaya'. Forum ini akan menjadi tempat berhimpunnya pada Relawan Kota Surabaya maupun berbagai komunitas. Sedangkan tempat mereka berkantor nanti disebut 'Halte Relawan'. Semacam kesekretariatan bersama hingga mereka dapat saling berkoordinasi dan membantu."

Kategori/rubrik Peristiwa

Penyair  Dengan Semangat 45 di Tunjungan Ikon Surabaya

Hiruk pikuk Jl. Tunjungan pagi ini berbeda dari hari biasa yang penuh sesak dengan hilir mudik kendaraan bermotor. Ya karena ini adalah hari Minggu, dengan rutinitas Car Free Day Tunjungan. Mulai ujung selatan hingga utara dipenuhi dengan berbagai aktifitas, dari main bola, skate board, lari pagi, dan masih banyak lagi. Namun satu yang tak pernah luruh dari pandangan mata, yakni acara ngamen Tunjungan Ikon Surabaya (TIS).

Sudah hampir dua tahun berjalan acara yang digawangi Rahmat Utojo Salim (Cak Yoyok) serta Dr. Ananto Sidohutomo (Cak Ananto), dan perubahan pun sudah semakin pesat. Yang dulu hanya ngamen lagu lagu adaptasi, sekarang sudah banyak karya yang ditampilkan. Diantaranya Jula Juli Tunjungan, parikan Suroboyo, puisi, dan stand up comedi. Bahkan hari Minggu kedua di Januari ini TIS kedatangan seorang penyair, yakni Ana Azgara. Ibu satu putra yang sedang menggarap antologi solo puisi ini sudah beberapa kali menjadi kontributor dalam acara yang diprakarsai TIS. Diantaranya Ulang Tahun TIS tahun lalu, peringatan hari Kartini, peringatan Kemerdekaan RI, Monolog Perobekan bendera, Hari Pahlawan, dan beberapa lagi.

Kali ini Ana membacakan sebuah puisi berjudul "Cerita Kubangan". Gayanya yang khas, penuh semangat mengundang decak kagum penikmatnya, bahkan orang-orang yang sedang lalu lalang pun menyempatkan diri berhenti menyimak pembacaan puisinya. Kemudian tepuk tangan membahana mengiringi bait terahir puisi ini. Ia selalu tampil total dalam performanya beraktualisasi. Hingga dijuluki sebagai "Penyair dengan Semangat 45".

"Puisinya kena di hati, Ning," komentar Cak Ananto. Ana Azgara memang terkenal dengan puisi-puisi sindiran. "Inspirasi puisi ini mengalir ketika suatu sore saya melihat keadaan yang sangat timpang. Saat itu saya sedang berhenti di pinggir jalan. Sebuah pemandangan mencuri perhatian saya. Di tengah asyiknya memperhatikan, tiba-tiba lewat mobil dengan kecepatan tinggi yang memuncratkan genangan air dan tepat mengenai wajah saya, juga beberapa orang yang sedang saya perhatikan. Hingga lahirlah sebuah puisi Cerita Kubangan." celotehnya dalam obrolan bersama Cak Ananto dan para penikmat TIS.

Ana dikenal mampu menciptakan puisi dalam waktu singkat. "Kebiasaan buruk saya adalah suka menulis puisi secara mendadak. Jadi begitu ada event, dapat inspirasi langsung aja ditulis dan jadilah puisi," ucapnya. Berikut adalah puisi yang dibacanya hari ini.

Cerita Kubangan

Aku bukan penceramah,
Hanya kata hati yang mengandung celah

Rintik gerimis, hujan menderas
Pun air bah
Membawaku berpindah-pindah

Dipinggir jalan ini kulihat
Berbagai macam aksi

Mulai pengayuh becak, berpeluh
Dengan sandal karet bekas roda aus nya
Pedagang rangin tau renta
Dengan ronjot di pundaknya

Pengamen gagah perkasa
Dengan gitar mewah, mengetuk rumah ke rumah
Pengemis bergiwang, dengan kaki pincang penuh kasa dan tetesan darah
Sstttt, kuikuti dia
Aku berbisik pada tanah
Ketika di ujung gang
Lari tunggang langgang,
hahaha.. penipuan

Sementara, pengayuh becak berhenti karena kelaparan
Dan pedagang rangin berhenti karena kelelahan

"Kau lapar?",
"Kau lelah berjalan?",
Sebuntal rangin dilahap pengayuh becak
Si tua renta, menaikkan dirinya dan ronjot rangin mendapat tumpangan

Pengayuh becak menyeka dahi berpeluh
Pedagang rangin menarik nafas lega

Pengamen dan pengemis bertemu di bawah pohon rindang
Menghitung uang,
Berencana membeli makanan di restaurant

Simbiosis yang sempurna

Lewatlah mobil berpelat merah yang gagah
Menghantam, kubangan air penuh sampah

Aku tercabik, terpental, terlempar

Peluh bertambah keruh
Ronjot rangin kuyup sempurna
Uang hitungan pun basah

"Astaghfirulloh..."
"Semoga diberi hidayah".

"Kampret!!!"
"Tak sumpahi kecemplung got"

Pengendara roda dua menghindar, hingga naik trotoar
Memandang geram dan berteriak
"Heh... ojo gaya gaya. Mobil dibeli pake uang rakyat. Dibanterno sak enak e sampe nyiprat-nyiprat"

Si pelat merah melaju cepat,
Tak peduli reaksi rakyat
"Huaduh, becak ini markir gak mau minggir"
"Gak tau ta aku ini uda telat"

Hanya geleng geleng kupandang mereka

Halus, kasar, umpat, atau gerutuan

Pemandangan kehidupan yang timpang
Apa memang negeri ini penuh sumpah serapah
Hingga berkubang musibah?

Coba meraba diri kita

Pada fajar, Sidoarjo 10 Januari 2015

 

Kategori/rubrik Pariwisata/budaya

 BERDIRI DAN BERJALAN KEMBALI DI ACARA NGAMEN TUNJUNGAN IKON SURABAYA

 

Minggu, 11/1/'15. Sebuah mobil putih 2.500 cc membelah cuaca pagi cerah dan berhenti tepat di depan Hotel Majapahit di Jl. Tunjungan, Surabaya. Tiga lelaki segera menurunkan beraneka peralatan musik dan sound system di trotoar jalan itu. Mereka nampak sibuk menyiapkan acara Ngamen dari Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya yang telah hampir 2 tahun ini rutin diadakan sejak jam 6-9 pagi. Petugas dari pihak hotel juga membantu dengan menyiapkan kabel panjang sebagai sumber listrik.

 

Tepat pukul 06.00 pagi, acara ngamen dibuka dengan ucapan selamat datang dan penjelasan tujuannya, "Kami dari Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya ngamen supaya segera terwujud kawasan Tunjungan ini menjadi Ikon budaya di Surabaya. Tempat bertemunya seluruh kepentingan rakyat terhadap pengembangan seni budaya sesuai ciri khas karakter Arek Suroboyo," jelas Ananto Sidohutomo, budayawan yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh penggagas. Segera saja Alim, pemuda usia 16 tahun tampil dengan gitar membawakan tiga lagu ciptaannya sendiri.

 

Seberang tempat ngamen, nampak di atas kursi roda adalah cak Dewo, warga kampung Kedung Turi yang di dorong beberapa kawannya mendekat. Dia menderita sakit yang membuatnya hampir tiga tahun hanya dapat berbaring di ranjang rumahnya. Semua upaya baik medis dan non medis telah dilakukan, termasuk ke rumah sakit dan mendatangi "orang-orang pintar". Namun belum juga mendapatkan hasil.

 

Empat bulan yang lalu, cak Dewo diajak oleh sahabatnya cak Galung dan kawan-kawan ke Tunjungan. Diatas kursi roda, posisi setengah berbaring (duduk tidak bisa karena tubuhnya kaku dan nyeri bila bergerak), wajah pucat, tubuhnya lemah tak berdaya. Di acara Ngamen itulah terjadi interaksi antara kawan-kawan Komunitas TIS dengannya. Sejak itu setiap Minggu mereka bertemu, apalagi cak Galung juga ikut ngamen dengan bernyanyi.

 

Perlahan tapi pasti, kesehatan cak Dewo berangsur membaik, "Saya tiap Minggu datang kesini, dan merasa semakin kuat, apalagi selalu dimotivasi kawan-kawan untuk segera sembuh. Dua minggu lalu saya diyakinkan untuk berlatih berdiri, saya jalankan dan ternyata bisa. Sekarang meski masih perlu dibantu, saya kembali diyakinkan untuk mulai berjalan dan herannya, saya ternyata juga bisa!. Rupanya disini saya bisa mulai berdiri dan berjalan lagi. Mohon doa dan dukungannya." jelasnya.

 

Rachmad Utojo Salim, Ketua dari TIS bersama kawan-kawan tentu senang dengan hal ini, "Ngamen bersama ini membawa berkah, untuk kita juga untuk cak Dewo" katanya. Demikian pula dengan cak Budy Rejeki, ketua Pekerja Sosial Masyarakat Surabaya yang Minggu ini hadir dan bertemu langsung mengatakan, "Saya dan kawan-kawan PSM akan ikut memantau dan memberikan dukungan semampu kita," tuturnya.

 

Cak Ananto, yang kebetulan juga seorang dokter ketika ditanya tentang sakit cak Dewo menyatakan, "Cak Dewo agak tertutup dalam hal ini, saya pun tak akan memaksa, apalagi sudah dilakukan tindakan medis sesuai yang diceritakannya". "Kami hanya dapat memberikan doa dan dukungan sesuai yang dia inginkan, seperti mengawani, menyemangati dan mengajak ngamen bersama. Hari ini dia sudah mulai berjalan meski dituntun, setelah Minggu lalu berlatih berdiri. Bahkan dia sudah bisa menggerakkan tubuhnya untuk ikut bermain perkusi." imbuhnya.

 

Tentang Ngamen TIS yang digagas olehnya, budayawan cak Ananto menjawab, "Ngamen itu adalah budaya yang berasal dari mengaminkan doa-doa kebaikan dan keindahan (tutur sejarah sunan Kalijaga). Apa pun dapat terjadi saat kita Ngamen bersama, Ngamen itu luar biasa, kami sekeluarga dan kawan-kawan di sini telah membuktikannya, termasuk cak Dewo". Tambahnya lagi, "Ayuk arek-arek Suroboyo, lek pancen wani yo ojok wedi-wedi ngamen bareng TIS nang kene. Wis, sampek ketemu dino Minggu ngarep"

Acara ngamen ini juga diisi penampilan Alim dan Farah kustik, cak Rusianto cs, monolog Arif & Ariq, Duet Jula-juli Enteng-entengan cak Ananto dan cak Yoyok, pembacaan puisi ning Ana Azgara dkk, dan spontanitas dari pengunjung. Acara berakhir saat mentari telah mulai terik Pk. 09.00 BBWI.

 

 

 

 

Kategori/rubrik Pariwisata/budaya

PENYAIR MBELING NGAMEN DI TUNJUNGAN

Puluhan orang duduk di badan jalan Tunjungan, Surabaya di depan Hotel Majapahit. Mereka menyimak penampilan pembacaan puisi yang dilaksanakan di atas trotoar. Minggu pagi, 4 Januari 2015 adalah saat pertama kali Ngamen Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya (TIS) di tahun ini.

 

Muhammad Robby Binnur (21 th) dikenal sebagai “Cak Robby, Penyair Mbeling” tampil habis-habisan. Intonasi, ekspresinya dan materi puisi yang berjudul “Bocah Sarungan” meski bernuansa religius memang mbeling, apalagi dibawakan dengan menunjukkan karakternya yang khas.

 

Sambil menyeka peluh Robby mengatakan, ““Puisi ini tentang anak kecil yang hari harinya tiada seorang pun menggubrisnya, padahal diam-diam anak kecil itu rajin ibadah.” Syair puisi itu memang nylekit, dan bersama dengan sekitar 200 puisi lain akan direalisasikan menjadi buku religius meski masih memerlukan waktu.

 

Rachmad Utojo Salim yang biasa dipanggil Cak Yoyok, ketua TIS menyampaikan salut terhadap penampilan Cak Robby. Keduanya sempat mendiskusikan puisi itu bersama penonton yang lain. Sedangkan Ananto Sidohutomo, budayawan yang selalu ikut pada acara itu juga mengacungkan ke dua jempolnya ke atas.

 

Inilah puisi yang menjadi andalan saat ngamen di jalanan hari ini.

Bocah Sarungan

Negri yang konyol ini surgamu

Sampah sampah yang berserakan semestinya dirimu yang menyapu

Rokok mu,

Taruh asbak dalam sakumu

Anak anak kecil di pinggir jalan entah ngemis atau loper Koran

Juga saudaramu,

Bocah dengan ketidak jelasan arah

Tanpa di perintah,

Namun sandalnya selalu di lepas, di buang entah kemana 

Sedangkan Musa sendiri melepas sandal setelah aba aba

Itupun Musa masih bingung, “oh ada apa dan mengapa wahai Tuhanku?”

Tapi bocah bocah itu…

Melepas ikhlas, membuang jauh tak terhiraukan

Hari harinya comot,

Hari harinya  rusuh, 

Hari harinya kumuh …

Bahkan ada yang berteriak “Ohhh… dasar kemprooo … siapa orang tuamu ??? … enyah .. 

kau tak layak di hadapanku… !!!” 

Melesat kepala tertunduk pilu

Tiba malam… diam diam …

Kian malam… semakin diam …

Percikan air wudluh mengalir membasuh rusuh

Sarung bolong di kenakannya dengan lucu, 

Takbir melorot, rukuk melorot, bangkit melorot kembali 

 

Sampai Tuhanpun nyelorot dari langit 

Merapikannya sendiri, dan berbisik keras… keras sekali ….

Nyaring dalam hati …

“Aku orang tuamu, kurapikan sarungmu… aku akan meninggikan derajatmu,

Akan kutinggikan kedudukanmu, akan kutiupkan cahaya di ubun ubunmu, sehingga seluruh 

manusia mencintaimu dan yang menghinamu akan tertunduk malu” 

 

 

Kategori/rubrik Lebih Dekat
© Copyright 2013 portaljatim.com, All Rights Reserved | Designed by: Jasawebsite.com