A+ A A-

Monolog Ke IV "PERTEMPURAN BENDERA" 2016

Monolog ke IV “Pertempuran Bendera”, 2016

 

 (Dalam rangkaian FESTIVAL MERAH-PUTIH I)

oleh Ananto Sidohutomo, Dr. MARS.

Situs Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit, Surabaya,

Senin, 19 September 2016, pukul 20.00

Acara tahunan Arek-arek Rakyat Surabaya ini telah memasuki tahun ke empat dan semakin mendapat dukungan masyarakat luas. Untuk kegiatan ini siang tadi dilaksanakan Jumpa Pers di R. Bromo, Hotel Majapahit oleh Cak Ananto, Cak Yoyok, Cak Boni, Ning Ririe, Ning Nidia dkk. penyelenggara dan Cak Hendrick mewakili pihak Hotel Majapahit Berikut ini keterangan pers yang dihimpun tentang kegiatan tersebut.

Cak Ananto menuturkan, "Pemeran Utama atau lakon'e kegiatan ini adalah para Patriot Bangsa Arek-arek Suroboyo yang gugur, bersimbah darah dan keringat dalam peristiwa Pertempuran Bendera 19 September 1945 di Jl. Tunjungan, Surabaya. Kita semua disini hanyalah pemeran pembantu semata. Kegiatan ini adalah Silahturahim Patriot Surabaya yang tulus ihlas hadir untuk mewarisi semangat patriotisme Merah-Putih Jiwa-Raga kami, para leluhur kita".

Tujuan:

1. Mengenang, menghormati dan mesuri-tauladani semangat patriotisme Arek-arek Rakyat Surabaya yang gugur, terluka, bersimbah darah dan keringat dalam pertempuran Bendera 19 September 1945.

2. Menumbuh-kembangkan nilai-nilai dan semangat patriotisme,  kebangsaan, nasionalisme, budaya dalam mempertahankan NKRI. Mempersatukan dan meningkatkan semangat anak bangsa dalam Simbol Negara Merah-Putih Jiwa-Ragaku.

3. Menciptakan Tunjungan Ikon Surabaya (budaya pariwisata) kepada dunia.

Monolog ke IV “PERTEMPURAN BENDERA”

Kegiatan ini dilakukan oleh Ananto Sidohutomo (budayawan) pertamakali pada 19 September 2013, rangkaian upaya “Njejegno Tunjungan Ikon Surabaya”. Monolog ini kemudian menjadi agenda rutin yang semakin diminati arek-arek Surabaya sampai yang ke IV tahun 2016 ini.

Monolog ini memiliki tantangan ekstrem. Menara Bendera yang menjadi panggungnya terletak di ketinggian lebih 20 m dpl (dari permukaan laut), memiliki ruang gerak (block) hanya 0,8m X 2m, serta berangin kencang. Ketinggian dan sulitnya mempertahankan posisi berdiri menimbulkan tantangan dan perasaan gamang.

PERTEMPURAN-BENDERA 19 September 1945 di Jl, Tunjungan, Surabaya ini adalah:

1. Pertempuran Pertama R.I. melawan agresor asing/ penjajah, yang menjadi inspirasi awal dan diikuti seluruh Bangsa Indonesia lainnya.

2. Pertempuran penuh semangat Patriot ini dilakukan Arek-arek Surabaya/ rakyat  guna mempertahankan Kemerdekaan, kedaulatan dan keutuhan N.K.R.I.

3. Dikenang sebagai satu-2nya pertempuran bendera yang dimenangkan oleh Arek-arek Rakyat Surabaya.

Pertempuran terjadi karena pihak agresor asing/ penjajah mengibarkan bendera mereka di wilayah kedaulatan R.I. Ribuan Arek-arek Surabaya tidak terima dan marah. Siang hari, dengan semangat dan jiwa patriotisme yang tinggi, Arek-arek Surabaya menyerbu dan bertempur, hingga akhirnya berhasil naik ke puncak tertinggi tiang bendera, merobek warna biru dan berkibarlah Sang Merah-Putih. Lokasi berkibarnya bendera itu pada Situs Menara Bendera sisi Utara Yamato Hoteru (sekarang Hotel Majapahit) di Jl Tunjungan 65, Surabaya.

Meski kajian sejarah belum dilakukan, namun banyak pihak meyakini puluhan bahkan ratusan patriot Arek Surabaya telah gugur memenuhi janjinya kepada Ibu Pertiwi. Belasan bahkan puluhan musuh pun terkapar tewas serta ratusan lain yang terjebak di hotel dan gedung BPN bertahan dalam ketakutan. Sore menjelang, barulah patriot yang gugur di makamkan. Lagu Indonesia Raya pun dilantunkan dan dikumandangkan sampai malam.

Arek-arek Surabaya setelah pertempuran itu berjaga bergantian di sepanjang jalan Tunjungan untuk memastikan sang Merah-Putih tetap berkibar.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengingat sejarahnya, maka monolog ini membuktikan dan menjadi pengingat kita untuk selalu JASMERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Monolog ini bentuk nyata bahwa kita sedang membangun negeri & bangsa yang besar.

Patriotisme semangat Merah-Putih Jiwa-Raga leluhur bangsa telah tunai diuji dan lulus, serta akan menjadi suri tauladan untuk kita generasi berikutnya.

FESTIVAL MERAH-PUTIH I

Bertujuan menjadikan Merah-Putih sebagai simbol negara yang akan menjadi perekat jiwa-raga seluruh anak bangsa. Keinginan kedepannya adalah dalam sebulan penuh seluruh kawasan Tunjungan dipenuhi atribut Merah-Putih serta setiap persil yang ada disana berkontribusi aktif dalam menyelenggarakan kegiatan apapun yang bertema Merah-Putih di tempat masing-masing.

Tahun 2016 ini ada beberapa kegiatan yang bertemakan Merah-Putih. Khusus 19 September 2016 dilaksanakan di 3 venue dan acara yang berbeda.

1. Monolog ke IV “PERTEMPURAN BENDERA” di Situs Puncak Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit, Tunjungan, Pk. 20.00-21.00

2. Panggung Orasi & Budaya “MERAH-PUTIH AREK-SUROBOYO” di depan Gedung BPN (Badan Pertanahan Nasional), Tunjungan, Pk. 16.00 s/d 22.00

3. Panggung Orasi 3 Menitan Tokoh Surabaya “MERAH-PUTIH JIWA-RAGAKU” di Flag Terrace/ Teras Bendera di Lt II Hotel Majapahit, Tunjungan, Pk. 18.00-20.00

Materi Monolog:

Merah-Putih telah dikenal lama di masa lampau sebagai simbol Pataka, Dwaja, Bendera, umbul-umbul dan disebut pula sebagai Pataka/ Sang Saka Gula-Kelapa, Sang Getih-Getah, Sang Jingga-Pethak, Dwaja Abang-Putih.

1. Dinasti Syailendra, Relief di Candi Borobudur dan Mendut yang menggambarkan 3 hulubalang mengibarkan pataka 2 warna (700 M). Catatan menunjukkan berasal dari bunga Tunjung Mabang dan bunga Tunjung Maputeh.

2. Era Kediri, Panji-panji Merah-Putih

3. Era Majapahit, bendera kerajaan, umbul-2 Abang-Putih, Prajurit Getih-Getah, Gulo Klopo

4. Jangan heran bila Merah Putih 13 abad lalu berasal dari Bunga Tunjung Mabang-Maputeh, lalu membuat Arek-arek Surabaya bertarung tgl 19 September 1945 mengibarkan bendera Merah-Putih di jalan Tunjungan.

5. Sekarang kita yang berada di jalan Tunjungan, Surabaya menggenggam erat Merah-Putih…, yang menyatu dengan Jiwa-Ragaku.

Sejarah Bangsa

Pada tanggal 28 Oktober 1928, mereka para pemuda-pemudi yang mewakili seluruh daerah-daerah  bersumpah bersama yang isinya,

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia

Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Hingga pada tanggal 28 Oktober 1928 ini adalah dikenal dan dikenang sebagai saat lahirnya Bangsa Indonesia.

Proklamasi,

Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945,

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/ Hatta

Bangsa kita memproklamirkan kemerdekaannya tanpa pertumpahan darah. Pertempuran pertama kali R.I. yang penuh patriotisme dan menyebabkan gugurnya patriot Indonesia terjadi di Tunjungan, Surabaya pada tanggal 19 September 1945.

Mewarisi semangat patriotisme “Merah-Putih Jiwa-Ragaku” para pahlawan di Surabaya, kita bersama-sama akan membangun Indonesia lebih baik di masa mendatang.

Ibu Pertiwi

Saat ini lihatlah Ibu Pertiwi yang menangis dan berlara hati. Menangis karena berharap tambang dan kekayaan bumi dikuasai Merah-Putih. Menangis karena warna Merah-Putih telah banyak bertambalkan warna-warni bendera bangsa lain.

Beliau sebenarnya ingin segera memandikan anak-anaknya dengan sabun, odol dan shampo Merah-Putih. Membekali mereka saat tumbuh dengan pendidikan yang dikemas sesuai kearifan bangsa, menulis memakai pensil, ballpoint, kalkulator, handphone, laptop, komputer Merah-Putih.

Ibu Pertiwi juga berharap suatu saat kita bisa memproduksi mobil, motor, pesawat terbang, atau sepeda onthel dan otopet Merah-Putih.

Bila semua itu belum bisa terwujud, paling tidak Ibu Pertiwi berharap anak bangsa kita bisa kenyang dengan nasi, lauk-pauk, sayur buah Merah-Putih.

Mari seluruh anak bangsa, sekarang juga merapatkan barisan mempererat persatuan, mulailah merdeka dan mengisi kemerdekaan dengan merdeka memproduksi semua yang kita perlukan dan merdeka untuk berkarya sesuai cita-cita dan semangat Merah-Putih Jiwa-Ragaku.

Rangkaian Acara FESTIVAL MERAH-PUTIH I, ‘2016.

Kegiatan diawali dengan acara bertema “Merah-Putih Arek-Surabaya”. Bertempat di depan Gedung BPN sejak Pk. 16.00. Orasi, Aktualisasi Seni & Budaya ditampilkan kawan-kawan dari komunitas Tunjungan Ikon Surabaya, Karang Taruna RW IV Ketandan, KOSTI (Komunitas Onthel Sepeda Tua Indonesia) melakukan kirab bersepeda, SMK Dr. Soetomo menghadirkan band dan perkusi, komunitas Kansas, d’tabuhan, cak Karji jula-juli, HBC (Honda Bryo Club) berparade merah putih, dan spontanitas Arek-arek Surabaya.

Bertempat di Flag Terrace (Teras Bendera) di Hotel Majapahit pada Pk. 18.00 dilaksanakan kegiatan Orasi 3 (Tiga) Menitan Tokoh Surabaya bertema “Merah-Putih Jiwa-Ragaku”. (Cak Ipul, Wisnu, Armuji, Joni, Murpin, Isa Ansori, Taufik Monyong, Chrismanhadi, Sulistyanto, Sukowidodo, Daniel, Anton, Munir, Budy Rejeki, Indra)

Dokumentasi dilakukan oleh cak Anton dkk. dari SMK Dr. Soetomo Surabaya, ning Devina dkk. dari Untag serta bantuan dari relawan-relawan.

Tepat Pk. 20.00-21.00, kedua kegiatan dihentikan sejenak untuk bersama-sama memindahkan fokus di Situs Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit. Di tempat ini dilaksanakan Monolog “Pertempuran Bendera”.

Selain monolog yang dilakukan cak Ananto Sidohutomo, juga didukung tampilnya cak Alim, 18 th.  yang membawakan lagu cipta-karya sendiri saat berusia 15 tahun; cak Sugeng Ribowo dengan tabuhan bende dan bedug; tari tunggal oleh cak Wahyu, Ariq, 11 th. menyanyikan acapela lagu Ibu Pertiwi; cak Nur bermain biola; dan konduktor oleh ning Etty.

Acara monolog juga diisi dengan mengirimkan doa bagi patriot Arek Rakyat Surabaya yang gugur dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Kegiatan ini berakhir ketika cak Ananto telah menggenggam kain biru ditangan kiri sambil menunjuk Bendera Merah-Putih yang berkibar di puncak tiang bendera dengan diiringi gemuruh dan hingar bingar berbagai bunyi tabuhan, perkusi dan pekikan merdeka oleh ribuan penonton yang memenuhi trotoar jalan Tunjungan, Surabaya.

 

Acara ini didukung oleh Yayasan Jiwa Indah Bangsa, Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya, Hotel Majapahit,  Rumah Relawan & Komunitas, Kosti, CB 150R, SMK Dr. Sutomo, KOSTI, HBC, Karang Taruna Ketandan, Relawan Surabaya, berbagai komunitas dan organisasi serta perseorangan, sedangkan pemain dan panitianya adalah Cak Ananto, Yoyok Salim, Bobbin NPY, Alim, Arif, Ariq, Wahyu, Nur, Putut, Alik, Tri, Toha, Andri, Leo, Andhie, Tomy, Rintoko dll. Juga Ning Etty, Ririe, Nidia, Ifah, Devina,

 

(CP: dr Ananto Sidohutomo MARS, 0818302761)

 

 

 

 

 

 

Kategori/rubrik Nasional

(23/12'15) Dua ratus pengunjung memadati Cafe GELAS KAYOON 1618 yang terletak di Jl. Kayun 16-18, Surabaya. Mereka adalah pengurus, anggota dan pendukung KPJ Surabaya. Tertib, ceria dan senda gurau serta saling ramah menyapa mewarnai keseluruhan acara silahturahim malam itu.

Musik Refleksi KPJ 2015 menyajikan kebolehan para pemusik jalanan di panggung sebagai refleksi apresiasi dan aktualisasi diri mereka. Cak Bokir Genggong Kalaribu, ketua KPJ Surabaya menyampaikan terimakasih atas segala dukungan semua kawan-kawannya. "KPJ Surabaya akan tampil terus dan lebih baik lagi di masa mendatang dalam berkarya dan berorganisasi. Dukungan dari kawan-kawan sangat saya harapkan." ujarnya saat memberi sambutan

Kelompok Pemusik Jalanan yang tampil malam itu adalah One Man, Krayang Edan, Agus Dolid, Fian, Tabung KPJ Bungkul, Prapatan Rasta, Debu Jalanan, Klanting, Kalaribu, GGS Reggae. Semuanya bermain kompak dan sambutan luar biasa pun diberikan oleh pengunjung.

Ananto Sidohutomo, Budayawan dan Founder Museum Kanker Indonesia-YKW tempat dilaksanakannya kegiatan tersebut berharap, "KPJ Surabaya sudah waktunya menjadi barometer musik Indonesia. Mari kita dukung dan bantu eksistensi kiprahnya di masa mendatang." Sedangkan Wawan Klanting menyampaikan, "Kalau untuk kepentingan KPJ Surabaya, kami selalu akan datang!"

Kategori/rubrik Sastra & Seni

SUMINTEN ILANG DI CAFE GELAS KAYOON 1618

(22/12'15) GELaran ApreSiasi (GELAS) para tokoh seniman Surabaya dikemas dalam tampilan Ludruk berjudul "SUMINTEN ILANG". Selama dua jam, ratusan penonton dibuat terpukau dan tergelak oleh ulah Aming Aminudin, R. Giryadi, Deny Tri Aryanti dkk. Aming sendiri juga nampak terkejut dan bahagia saat menerima bunga pada hari ulang tahunnya kali ini.

Sesuai banner sebagai back-drop Launching Buku "Dendang Kecil Jalan Sunyi" nampaknya dikemas dalam bentuk yang berbeda dengan sekedar acara serupa. Aming dan Giryadi berkreasi dengan menampilkan bentuk yang inovatif dan menawarkan kreasi tersendiri.

Pembacaan puisi sebagai pakem apresiasi sastra pada acara tersebut dilakukan secara santai dan "Tidak Boleh Serius". Hampir semua pemain membaca puisi seperti Ida, Eva Kalimasadha, dll. Seniman dari Blitar dan Kediri juga tampil dan ikut bermain. Bahkan penonton yang memadati Cafe GELAS KAYOON 1618 yang terletak di Jl. Kayun 16-18, Surabaya juga ikut membaca puisi di akhir acara.

Kategori/rubrik Sastra & Seni

(7/12’15) Pembekalan bagi 30 relawan tour guide Museum Kanker Indonesia-YKW untuk  acara “Cancer Awareness Festival 2015” dilaksanakan di jl. Kayun 16-18, Surabaya. Sejarah, tampilan artefak dan serangkai informasi terkait museum dan kanker dijelaskan secara detail kepada seluruh relawan. Merekalah yang akan mentransformasikan hal ini pada pengunjung CAF 2015 pada tanggal 11, 12, 13 Desember 2015 nanti.

Anna Maharani, direktur MKI-YKW sekaligus sebagai ketua CAF 2015 tampil bersemangat menyambut para relawan. Predikat “Cancer Survivor” yang disandangnya karena menderita kanker payudara selama 25 tahun tak nampak sama sekali. CAF 2015 yang diselenggarakan pertama kali ini memerlukan perjuangan besar untuk sukses menanggulangi kanker berbasis masyarakat.

Acara CAF 2015 selama tiga hari pada tanggal 11, 12, 13 Desember 2015, Pk. 08.00 s/d 21.30 dilaksanakan di Museum Kanker Indonesia, jl. Kayun 16-18, Surabaya ini terbuka untuk umum dan gratis. “Saya berharap semua kalangan masyarakat dan komunitas secara ihlas berkenan hadir berbagi serta saling menguatkan di acara CAF 2015 ini,” ujar Anna.

Rangkaian acara yang dipersiapkan panitia adalah Tur Museum, Garage Sale, Skor Resiko Kanker Serviks & Payudara untuk Pribadi & Keluarga, Light Candle Never Die, Maharani (Cancer Survivor) Show, Lomba Mewarnai, Pray for Mom, Seminar, Apresiasi Komunitas, Gelaran Seni & Budaya.

Salah satu tokoh CAF 2015 adalah Syaiful Bachri menyampaikan, “Ibu saya meninggal karena kanker payudara yang menjalar hingga tulang belakang. Kami tahu betapa berat perjuangan beliau. Andai saja bisa dideteksi sejak dini, In sha allah beliau masih bisa mendampingi kami sampai saat ini. Acara ini sebagai wujud bakti anak kepada seorang Ibu.”

Sedangkan keinginan dari sahabat-sahabat Ratna Kartika (Almarhumah), sosok relawan yang ramah, ringan tangan, pandai bernyanyi dan wafat di usia 40 tahun karena kanker serviks dengan meninggalkan anak yang masih usia SMP dan SD menjadi awal inspirasi Festival ini. Dari rencana melaksanakan memperingati 100 hari kematiannya kemudian meluas hingga menjadi CAF 2015.

Ananto Sidohutomo, budayawan sekaligus founder dari Museum Kanker Indonesia-YKW dan Bidadari menyatakan, “Bila acara ini dapat terselenggara dengan baik, akan merupakan bukti bahwa berjejaring dan saling berbagi memang diperlukan dalam sebuah pergerakan masyarakat. Semoga CAF 2015 ini dapat menurunkan secara signifikan angka kematian karena kanker, terutama kanker Serviks & Payudara yang sudah diketahui upaya pencegahan, deteksi dini dan bila ditemukan pada tahap awal dapat dilakukan upaya penyembuhan yang maksimal.”

Anna di ujung pertemuan menghimbau, “Museum Kanker Indonesia-YKW adalah satu-satunya museum kanker di dunia. Jangan biarkan orang-arang asing yang datang dari jauh saja yang menikmati museum ini, sekarang saatnya semua warga masyarakat khususnya Surabaya dan sekitarnya menikmati dan belajar bersama disini.”

Kategori/rubrik Umum

 

16/09'15. Dua belas orang merayap menaiki tangga vertikal sampai di Menara Bendera Hotel Majapahit. Mereka adalah Ananto Dkk yang malam ini akan mengadakan Gladi Bersih Monolog Pertempuran Bendera 19 September 1945. Setibanya di roof-top, mereka segera melakukan aktifitas gladi bersih sekaligus saling berkoordinasi.

            Ananto Sidohutomo, Budayawan yang juga seorang dokter untuk ketiga kalinya akan melaksanakan “MONOLOG PERTEMPURAN BENDERA 19 SEPTEMBER” di Situs Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit Surabaya, Sabtu, 19 September 2015, pukul 20.00-21.00. Ini membuktikan bahwa komitmennya untuk kegiatan ini secara konsisten akan dilaksanakan terus.

            Dibandingkan tahun sebelumnya, angin yang kecepatannya saat ini dapat mencapai 35-40 km/ jam tentu menjadi kendala serius yang mesti dihadapi. Saat Gladi bersih yang dilaksanakan Rabu malam, 16 September 2015, dengan posisi tubuh miring masih relatif dapat mempertahankan berdiri dengan baik, namun bila tubuh tegak akan membuat terhuyung dan terangkat sesuai arah angin.

            Saat berkegiatan tersebut, Ananto menjaga diri mengikatkan tubuhnya dengan tali menjadi satu dengan tiang bendera Merah-Putih. “Tali ini menjaga keselamatan supaya tidak terlempar karena derasnya angin, sekaligus membuat perasaan saya menjadi lebih tenang karena merasa menyatu dengan Bendera Merah Putih yang berkibar,” ujarnya.

            19 September, sejatinya kita memperingati dan mengenang nilai-nilai kepahlawanan yang ditunjukkan Arek-arek Surabaya yang berani mengorbankan jiwa raganya dengan bertempur melawan Sekutu. Kisah ini dikenal sebagai pertempuran pertama-kalinya pihak Republik Indonesia melawan agresor asing yang ingin menduduki wilayah RI pada 70 tahun silam.

            Kejadian ini menunjukkan bahwa Arek-arek Surabaya dari berbagai latar belakang masyarakat, pendidikan, profesi, status telah berhasil kompak untuk memberi inspirasi dan contoh kepada seluruh rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Pertempuran bendera ini diikuti pertempuran lain di seluruh wilayah RI untuk mengusir musuh, seperti pertempuran 28, 29, 30 Oktober dan 10 Nopember 1945 di Surabaya, Palagan Ambarawa, Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, Bandung Lautan Api, Pertempuran Medan Area, Pertempuran Margarana di Bali, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang dan Pertempuran Lima Hari di Semarang.

            Pertempuran ini terjadi karena pihak Agresor Asing mengibarkan bendera mereka di wilayah kedaulatan RI. Arek-arek Surabaya tidak terima dan marah, lalu bertempur, menurunkan bendera mereka, merobek warna biru dan mengibarkan Sang Saka Merah-Putih (Sang Dwi Warna). Saat itu dikenal sebagai pertempuran bendera yang selanjutnya dikenal pula dengan nama pertempuran “Insiden Bendera”. Lokasi pertempuran menaikkan bendera merah-putih itu berada di Situs Menara Bendera sisi Utara Yamato Hoteru (sekarang Hotel Majapahit) di Jl Tunjungan 65, Surabaya.

            Monolog oleh Ananto yang juga sastrawan di Situs Menara Bendera sisi Utara Hotel Majapahit itu memiliki tantangan ekstrem lain. Menara Bendera itu sendiri terletak di ketinggian lebih 20 m dpl (dari permukaan laut), memiliki ruang gerak (block) hanya 0,8m X 2m. Kesulitan lainnya adalah faktor berangin kencang rerata 40 km/ jam serta dapat secara mendadak menjadi 60 km/ jam. Ketinggian dan sulitnya mempertahankan posisi berdiri tentu menimbulkan perasaan gamang.

Ananto mengakui beratnya tantangan melakukan monolog tersebut. ”Monolog sebagai bagian dari seni peran teater saja sudah merupakan tantangan berat tersendiri, paling tidak harus dapat mengalahkan diri sendiri untuk melakukannya, apalagi dilaksanakan di medan yang ekstrem tinggi seperti itu, perlu pengamanan ekstra”.

            Sebagai gambaran penampilan monolog yang sama oleh dr Ananto tahun lalu, hasil dokumentasi para fotografer baik penghobi, professional dan media, arah kibaran bendera berubah terus hingga menghadap ke enam arah. Dari rekaman video juga dapat disaksikan gerak refleks yang harus dilakukannya ketika terpaksa berpegangan pada tiang bendera karena hembusan angin kencang yang menerpa tubuh. “Karena itu selain harus menguasai materi monolog itu sendiri kru juga memperhatikan betul faktor keamanan di area monolog agar pergelaran lancar dan sukses. Ini tantangan yang makin membuat saya semangat melakukannya,” katanya.

            Tentang komitmen melakukan monolog tersebut, Ananto menjelaskan jika niat utama menggelar acara ini adalah untuk membangkitkan kembali nilai-nilai patriotisme dan kepahlawanan, semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang berprinsip mempertahankan NKRI dan Pancasila. “Selain itu juga mentransformasikan nilai-nilai keindahan dari perjuangan, kerelawanan, dan patriotisme  Arek-arek Surabaya. Momen ini harus terus diingatkan kepada generasi sekarang dengan berbagai cara agar makin dimaknai nilainya, sehingga ke depannya juga tetap akan terpatri di hati masyarakat,” terang suami dari dr Etty HK, SpPA. itu.

            Bila dikaitkan dengan sejarah bangsa, Ananto mengatakan jika kita dan generasi penerus perlu belajar dari sejarah yang benar dan apa adanya. “Sebab bila keliru memaknai sejarah, kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang maju. Hanya bisa berkali-kali tergelincir dan jatuh di lubang yang sama. Musuh terberat kita bukan yang dari luar sana, melainkan dari dalam diri kita sendiri,” katanya.

            Saat monolog, bapak empat anak ini didukung penampilan beberapa musisi muda seperti Muhammad Alim A. (17 th) yang saat usia 15 tahun telah menciptakan lagu Ibu Pertiwi, Fileski (biolist musikalisasi puisi), Rachmad Utojo S (seniman), Bokir G. Kalaribu (seniman), Deanandya, Arif A, Ariq A., Panji Walujo. Mereka memainkan komposisi baru karya sendiri dan berkolaborasi dengan Ananto.

            Ananto saat tampil ternyata melibatkan pula seluruh keluarganya, istri dan ke empat anaknya. Mereka semua bahu membahu membantu terlaksananya acara ini. “Salah satu nilai yang penting adalah kenyataan bahwa budaya itu berasal dan berawal dari keluarga kita. Merekalah yang menjadi satu alasan penting bagi saya melakukan monolog ini. Tentulah demi masa depan generasi penerus bangsa,” katanya mantab.

            Atas terselenggaranya acara ini, Ketua Panitia Bobbin Nila PY, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung. Terutama pihak Hotel Majapahit Surabaya yang sudah tiga kali menyilakan lokasi bersejarahnya menjadi ajang pergelaran yang bernilai sejarah itu. “Saya mengimbau pada Arek-arek Surabaya untuk ikut datang menyaksikan acara sekaligus mengenang pertempuran “Insiden Bendera” di Jl Tunjungan. Jika tak keberatan kami mengharapkan untuk membawa bendera atau atribut merah putih serta berpakaian rakyat saat itu, ketika acara monolog digelar,” tandasnya.

 

Catatan:

Bendera adalah Simbol Negara, kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa pada sebuah wilayah.

Di dunia telah banyak perang yang dilakukan dengan simbol bendera yang dikibarkan di sebuah wilayah yang berhasil diduduki. Contoh pertempuran di Iwo Jima: lebih 20 ribu tentara Amerika tewas dan terluka, sedangkan 20 ribu tentara Jepang tewas. Sampai saat ini bangsa Amerika merayakan pesta kemenangan bangsanya dengan memperingati hari tersebut. Kenangan terhadap pertempuran tersebut adalah momentum saat perjuangan beberapa prajuritnya mencoba mengibarkan bendera di wilayah negara lain tersebut.

Surabaya memiliki peristiwa PERTEMPURAN BENDERA yang juga patut diperingati dan memiliki nilai patriotisme dan kepahlawanan yang lebih baik. Seharusnya dengan lebih gegap gempita mengingat dilakukan untuk mempertahankan eksistensi bangsa kita dan diakhiri dengan kemenangan yang ditandai dengan berkibarnya Merah Putih saat pertempuran tersebut di wilayah kita yang diserang agresor asing.

 

Monolog Pertempuran Bendera ini disiarkan langsung oleh Prima Radio 103,8 FM, 19 September 2015, jam 20.00 s/d 21.00.

Kategori/rubrik Peristiwa

PEMBEKALAN PENANGGULANGAN KANKER PADA LULUSAN STTAL.

 

Senin, 19 Januari 2015. Gedung Marore di Markas Besar TNI AL di Surabaya menjadi tempat dilaksanakannya Seminar Bidadari bekerjasama dengan Pengurus Cabang BS Jalasenastri STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut). Tema "Penanggulangan Kanker Serviks & Payudara Berbasis Masyarakat" dipilih sebagai pembekalan kepada 98 lulusan S1 angkatan ke 33 dan D3 angkatan ke 7 STTAL beserta istri.

Nengah Putra A, Kolonel yang menjabat sebagai Wakil Komandan STTAL menyampaikan bahwa, "Lulusan STTAL ini berasal dari berbagai tempat di tanah air dan akan kembali bertugas menyebar di seluruh Indonesia. Diharapkan pembekalan ini dapat meningkatkan kesadar tahuan mereka tentang kanker dan penanggulangannya." Sedangkan Ibu Siswo Hadi sebagai Ketua Cabang BS Jalasenastri STTAL berharap supaya seminar tersebut dapat meningkatkan pengabdian anggota Jalasenastri dimana pun mereka mendampingi para suaminya bertugas."

Ananto Sidohutomo, Dr., MARS. sebagai narasumber menekankan pemahaman pentingnya pengetahuan ini, "Kanker Serviks dan Kanker Payudara adalah dua dari ratusan jenis kanker yang telah dapat dicegah secara aktif oleh masyarakat, dideteksi dini dan di diagnosa melalui pap-smear dan pemeriksaan fisik maupun FNA-C (Fine Needle Aspiration-Cytology), dan bila ditemukan pada tahap awal dapat dilakukan upaya kesembuhan yang maksimal. Jadi kita mesti bersepakat untuk tidak mengijinkan seorang pun perempuan mati karena ke dua jenis kanker ini di Indonesia."

Peserta seminar yang mencapai 250 orang menyimak dengan antusias sampai selesai. Suasana menjadi lebih interaktif ketika Ananto menyampaikan penanggulangan kanker serviks melalui upaya melakukan Valeri-Ananto (Vagina Toilet Sendiri metode Ananto) secara rutin. Valeri ini adalah tips membersihkan organ intim perempuan yang murah, tak perlu peralatan dan obat khusus,  dimana sekaligus dapat membebaskan perempuan dari keputihan dan meningkatkan mutu kepuasan ketika melakukan hubungan suami istri. "Bila ada yang ingin konsultasi lebih lanjut dapat membuka website www.bidadariku.com atau datang saja langsung ke Pusat Deteksi Dini & Diagnostik Kanker, Jl. Trunojoyo 63, Surabaya (031-5670743) yang juga menjadi markas Bidadari," lanjutnya.

 

Kategori/rubrik Pendidikan Kesehatan

PSM dukung antisipasi munculnya problem sosial di masyarakat Surabaya

 

Salah satu tujuan keberadaan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kota Surabaya adalah mendukung dan mengantisipasi munculnya 26 jenis problem sosial di masyarakat. Upaya ini memerlukan kerjasama dan koordinasi yang erat dari unsur pemerintah dan masyarakat. Salah satu contoh problem sosial yang timbul adalah dari penyakit yang di derita salah seorang anggota keluarga.

PSM sendiri dalam pengabdian dimasyarakat dilaksanakan oleh sumber daya manusia relawan yang ihlas dan tulus bekerja secara sosial, baik sendiri maupun bergabung bersama-sama di organisasi sosial seperti PKK, Karang Taruna, Karang Werda, TAGANA, TKSK, PMI dan lain-lain.

Diskusi dan dengar pendapat pengurus PSM Kota Surabaya, selain karena sakit parah seperti kanker, ternyata problem sosial juga dapat timbul dari ketidak harmonisan hubungan suami istri (karena keputihan). Berbekal diskusi inilah, PSM mencoba melakukan pendekatan ke masyarakat melalui sosialisasi tentang problem nyata di masyarakat yang ke depannya bila tidak di antisipasi dengan baik akan mendatangkan problem sosial.

Upaya yang segera dapat dilakukan adalah upaya yang tak memerlukan beaya, mudah dilaksanakan, utamanya oleh masyarakat itu sendiri. “Itulah kisah dipilihnya tema menuju perempuan bebas keputihan untuk disosialisasikan pada masyarakat Surabaya, supaya hubungan suami istri harmonis, bersih dan terhindar dari kanker serviks,” sambutan Budy Rejeki, ketua IPSM Surabaya pada pembukaan acara pertemuan PKK di Kelurahan Mulyorejo, Surabaya, Kamis, 15 Januari 2015 tadi pagi.

Gagasan dari PSM ternyata mendapat dukungan luas, pertemuan yang rutin dilaksanakan dan melihatkan tokoh masyarakat merespon dengan mengundang mereka pada saat ada kegiatan organisasi maupun kemasyarakatan seperti yang terjadi siang hari ini.

Ketika dilakukan sosialisasi, dari 40 menit waktu yang disediakan pun menjadi satu jam lebih, itu pun masih dirasa kurang oleh banyak peserta. “Materinya memang sangat menarik di kejadian sehari-hari yang kita temui, hingga entah mengapa, semua peserta seperti kena hipnotis dan antusias tak mau henti bertanya,” kata Soekesi, salah seorang peserta.

 “Sangat bermanfaat, banyak sekali informasi dari Dr. Ananto untuk kita semua,” kata Hartutik dan Menik bersamaan, keduanya pengurus PKK sepakat menyampaikan penilaiannya. Bahkan tips Valeri-Ananto yang disampaikan juga akan langsung dikerjakan oleh mereka semua karena mudah, tak memerlukan peralatan dan bahan khusus.

Kategori/rubrik Umum

LAGU BARU UNTUK NGAMEN DI TUNJUNGAN

(Minggu, 4 Januari 2015). Ratusan orang yang memenuhi jalanan Tunjungan, Surabaya di depan Hotel Majapahit menghentikan kegiatannya sejenak untuk menyimak lagu yang dibawakan secara mencolok dari trotoar. Seperangkat sound system portable, Gitar, Chajon, Tamborine, serta Harmonika menyita suasana yang masih sejuk.

Rachmad Utojo Salim, ketua TIS yang dikenal dengan panggilan Cak Yoyok sengaja menampilkan lagu barunya di acara ngamen pagi itu. Seniman yang memainkan terampil Gitar, Harmonika dan memiliki karakter suara yang khas ini sedang mengaktualisasikan perasaan terhadap lagu yang diciptakan. “Karena rasa prihatinku terhadap terkikis dan tergerusnya budaya kita daerah ditengah kemajuan.” imbuhnya.

Cak Yoyok juga menuturkan, “Saya yakin, dengan adanya acara Ngamen gawe Njejegno Tunjungan Ikon Surabaya ini masyarakat akan lebih bergairah untuk membudayakan jiwa raganya, juga akan bermanfaat dan sangat berefek positif kedepannya.”

 

Judul lagu yang dibawakannya. "Seni ,dialek khas dimana?

Kota ku indah dan permai

Terhampar hijau taman kotanya .
Gedung-gedung yang tinggi menjulang ...
Hutan beton dan rimba kaca layaknya ...

Kota ku kini telah maju ..
Layaknya kota-kota Dunia ...
Gaya hidup nan modern ..
Telah jadi miliknya ..

Namun aku sungguh bersedih ..
Saat tak tak kudengar lagi
Seni budaya .. Dimana
Dialek khas pun malu-malu diucapkan ...

Kotaku kini tenggelam ..
Ditelan ombak kemajuan
Seni budaya telah hilang
Seni budaya daerah telah terlupakan .......

Jula-juli bintang tujuh wong sing ngidung ..
Arek Suroboyo ...
Jaman canggih jaman wis maju seni budoyo ...
Ojo dilali' no
Mangan bubur santene klopo ,
Nggowo gelali nang wonokromo
Ayo dulur ayoo kanca, ojo lali karo budoyo ....

 

Ngamen rutin Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya (TIS) di awal tahun ini telah menyemarakkan Kota Surabaya kembali. Kegiatan ini telah hampir 2 (dua) tahun dilaksanakan tiap hari Minggu pagi sejak digagas untuk “Njejegno Tunjungan dadi Ikon Surabaya” tutur Ananto Sidohutomo, budayawan yang juga dikenal sebagai salah satu pencetus ide ini bersama Arek-arek Suroboyo lainnya.

 

Kategori/rubrik Lebih Dekat

Menyongsong tahun baru 2015, Museum Kanker Indonesia–YKW berpartisipasi dengan menggelar pameran saat acara car free night di Taman Bungkul, Surabaya. Animo masyarakat sangat luar biasa terhadap informasi yang disajikan di booth yang dikelola oleh Forum Komunikasi Pariwisata Surabaya.

                         

 Tenda berukuran 3 X 3 meter yang disediakan panitia selalu dipenuhi oleh pengunjung yang sangat tertarik dengan peraga organ yang terkena kanker serviks dan kanker payudara. Dua materi tersebut diletakkan di toples dan dipajang seakan-akan sedang berada di ruang galeri pameran dengan lampu sorot yang lebih mengungkapkan detil organ tersebut secara artistik dan lebih jelas.

 

 Deanandya, pemudi teladan kota Surabaya 2014 serta leader dari Bidadari ini tampil memberikan penjelasan dengan tenang dan lugas kepada kerumunan pengunjung yang selalu memadati ruang pamer MKI-YKW tersebut. Menjelang jam 23.00 malam, telah tercatat hampir 1.000 (seribu) orang yang datang mengikuti dengan antusias materi yang disampaikan. Brosur museum dan kartu skor deteksi dini resiko kanker serviks dan kanker payudara pun telah hampir habis diminati pengunjung.

 

 Selain Dea dan dua kawannya, tujuh orang anggota Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kota Surabaya yang dipimpin oleh Budy Rejeki melarutkan diri bahu membahu melayani antusiasme masyarakat yang membludak. Bobbin NPY yang diberi amanah menjadi koordinator pameran MKI-YKW di acara ini terlihat sangat sibuk mengatur hilir mudik alur pengunjung yang haus informasi kanker tersebut.

 

Deanandya juga menjelaskan, “Museum di Yayasan Kanker Wisnuwardhana (YKW) ini memang menjadi Museum Kanker pertama dan sampai saat ini satu-satunya yang ada di Indonesia. Museum ini nantinya memiliki kategori fungsi pengabdian masyarakat, pendidikan dan penelitian dengan pembobotan lebih kearah pendidikan.

 

Museum yang terletak di Jl. Kayun 16-18 ini dirancang nantinya akan secara bertahap menampilkan sisi sejarah, budaya dan ilmiah dari “Kanker”. Termasuk sejarah YKW, Budaya di masyarakat, Organ/ Jaringan Kanker dan Tumor, Peralatan dan Obat yang dipakai, serta tehnik-tehnik promotif, preventif, deteksi dini, kuratif, rehabilitatif, paliatif. Termasuk ditampilkannya mikroskop dua kepala (double headed) supaya masyarakat dapat langsung melihat dan mengetahui sel kanker dan organ yang diserangnya.

 

Kehadiran Museum Kanker Indonesia di YKW ini diharapkan memudahkan proses promosi dan edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Selama ini hampir seluruh kalangan masyarakat membicarakan kanker, namun mereka hampir tidak pernah mengetahui seperti apa organ/ jaringan tubuh manusia yang terkena kanker dalam bentuk 3 (tiga) dimensi.

 

Mengedepankan upaya penyadar tahuan masyarakat atau kampanye penanggulangan kanker di museum ini tentu akan memudahkan semua kalangan untuk memanfaatkan sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Utamanya menurunkan angka kematian dan kesakitan karena kanker di Indonesia.

 

Museum Kanker Indonesia ini di gagas oleh Ananto Sidohutomo, Dr. MARS., saat ini menjadi Pembina di Yayasan Kanker Wisnuwardhana dan juga sebagai Founder di Bidadari, yaitu sebuah gerakan moral yang tidak mengijinkan seorangpun perempuan mati karena kanker serviks dan kanker payudara (www.bidadariku.com).

Kategori/rubrik Pendidikan Kesehatan
© Copyright 2013 portaljatim.com, All Rights Reserved | Designed by: Jasawebsite.com