A+ A A-

28/08’15. Panitia kecil ini telah menyelesaikan pembahasan rencana konsep acara “In Honour Of” sebagai bentuk pemberian penghormatan pencapaian seseorang pada bidang seni dan budaya sesuai minatnya. Keterbatasan dan kesederhanaan sumber daya tak mempengaruhi niatan dan idealisme mereka.

Kegiatan menarik yang dikemas di “Café Gelas Kayoon 1618” dengan kapasitas 120 tempat duduk ini adalah menyediakan sebuah panggung kecil, lengkap dengan sound-system dan lampu sorot bagi seseorang yang akan diberikan kesempatan menampilkan sebagai sosok pribadi dengan karya asli mereka. Skema semi talkshow ni juga akan mengupas tentang jati diri, latar belakang dan pemikiran, pengalaman, serta proses penciptaan karya asli mereka tersebut.

Waktu yang disediakan saat prime-time diantara Pk. 20.00-22.00 tersebut juga memiliki sanksi tegas bila di panggung kedapatan seseorang membawakan karya orang lain. Bila ditemukan pelanggaran, maka panitia akan segera mematikan sound-system dan lampu sorot, meminta penampil turun panggung serta meneriakkan kata “Huuu…” bersama penonton lain.

Ananto Sidohutomo, budayawan yang juga dokter saat ditanya tujuan dilakukan kegiatan ini menyatakan, “Seni Budaya dan peradaban kita akan mengalami kemunduran terus bila bangsa ini tak lagi memberikan penghormatan pada seseorang yang telah berjuang menciptakan karya asli mereka sesuai bidang minat maupun pencapaian prestasi mereka. Acara sederhana ini kami kemas untuk membangkitkan kembali budaya saling memberi penghormatan pada tingkat pencapaian seseorang, sekaligus semoga menjadi inspirasi bagi tumbuh kembangnya acara serupa di seluruh tanah air.”

Salah satu panitia yang juga seniman musik dan aktif mencipta lagu, Cak Bokir Genggong Kalaribu mengungkapkan, “Bukan hanya di bidang pencapaian seni musik, namun juga seni sastra, teater, lukis, keilmuan, prestasi, maupun ide dan karya dalam bentuk pemikiran. Pokoknya semua yang orisinil dan asli hasil cipta karya anak bangsa silahkan tampil disini."

Acara pertama nanti dilaksanakan pada Minggu, 30 Agustus 2015, Pk. 20.00 s/d 22.00 berjudul Minggu Akustik ‘In Honour Of “B. Jon”’. Pemberian penghormatan kepada salah seorang tokoh legendaris Surabaya yang dikenal sebagai pencipta lagu, pemain gitar dan penyanyi yang telah mengabdikan diri di bidang musik lebih dari 40 tahun.

“Café Gelas Kayoon 1618” sendiri terletak di jalan Kayun 16-18, Surabaya. Buka mulai Pk. 08.00 s/d 22.00 setiap harinya. Tempat kumpul baru ini sekarang menjadi sarana yang ramai dikunjungi para seniman, relawan dan berbagai komunitas di Surabaya. Apalagi di salah satu bangunannya menjadi kesekretariatan “Halte Relawan” dan “Rumah Komunitas”.

Selengkapnya...

Museum Kanker Indonesia dari Yayasan Kanker Wisnuwardhana (MKI-YKW)  bersama dengan aktifis kerelawanan dan berbagai komunitas di Surabaya melakukan “GATHERING MKI-YKW” sekaligus, Launching Kesekretariatan Bersama ‘HALTE RELAWAN’ & ‘RUMAH KOMUNITAS’”

Acara meriah yang berlangsung santai ini dihadiri 300 tokoh relawan dan komunitas. Dilaksanakan di Jl. Kayun 16-18, Surabaya pada hari Minggu, 16 Agustus 2015, Pkl. 10.00, hadir pula sahabat-sahabat dari unsur-unsur pemerintahan, kepolisian, TNI, organisasi/ institusi dan kawan-kawan media massa.

Setelah mengisi daftar hadir, mereka melakukan tur Museum Kanker dipandu guide. Selanjutnya masing-masing tamu menuju panggung untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan pandangan/ harapan. Selepas dari panggung, mereka kemudian diterima oleh berbagai aktifis relawan dan komunitas untuk berbincang santai dan mempererat persahabatan.

Rr. Hendriana Maharani yang akrab dipanggil ibu Anna, ketua dari MKI-YKW mengatakan, “Gathering MKI-YKW ini dilaksanakan sebagai sarana silahturahim bagi kita, juga sebagai bentuk ucapan terimakasih bagi semua pihak yang telah mendukung keberadaan museum kanker satu-satunya di dunia ini”

Anna yang juga menjadi seorang survivor kanker payudara selama 24 tahun dan telah melakukan 6 kali operasi selanjutnya menyampaikan bahwa, “Kami juga menyambut baik niat kawan-kawan relawan dan komunitas kota Surabaya untuk membentuk kesekretariatan bersama. Meski dengan segala keterbatasan dan kekurang yang ada, kami berkomitmen untuk membantu dalam bentuk tempat yang dapat dipakai sebagai kantor dan ruang pertemuan.”

Iis Hendro Gunawan, ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya nampak sangat terkesan dengan adanya Museum Kanker Indonesia ini. Beliau ingin memikirkan lebih mendalam tentang apa yang dapat dibantu untuk mensejahterakan masyarakat Surabaya kedepannya dengan membantu kegiatan MKI-YKW. Hadirin lain yang datang juga saling memperkenalkan diri dan memberikan sambutan bergantian dipanggung.

Ananto Sidohutomo, budayawan yang juga dokter dan sekaligus Founder Museum Kanker ini mengatakan, “Kota Surabaya sedang menuju peradaban madani, tentu sangat memerlukan peran aktif dan kepedulian dari masyarakatnya. Berbagai bentuk kerelawanan dan kegiatan komunitas memerlukan jejaring yang baik diantara mereka guna membantu mencapai tujuan sesuai bidang dan minat masing-masing. Itulah tujuan utama dari membangun kesekretariatan bersama ini.”

Ide ini sebenarnya telah diawali oleh Ananto ketika menjadi Host acara “Halo Relawan” di sebuah radio swasta Surabaya tahun 2011 s/d 2012. Saat itulah muncul gagasan membuat halte relawan yang sempat disosialisasikan, namun belum mendapat dukungan tempat sebagai kesekretariatan. Saat inilah impian Ananto bersama kawan-kawan dapat direalisasikan setelah menunggu selama hampir 4 tahun.

Andreas Eko Muljanto atau akrab dipanggil mas Leo dari Relawan Surabaya, saat ini mengemban amanah untuk mengawal keberadaan Halte Relawan. Sedangkan Ririe Suhadi, presiden Bidadari mendapat peran mengawal keberadaan Rumah Komunitas. Sampai saat ini telah ada lebih dari 70 nama organisasi dan komunitas yang siap berjejaring di kesekretariatan bersama halte relawan dan rumah komunitas.

Tokoh-tokoh kerelawanan dan komunitas di Surabaya nyata telah kompak bergotong-royong dalam penyelenggaraan acara ini.  Budy Rejeki, ketua IPSM Surabaya pagi itu bertugas menerima tamu yang mencatatkan diri dan organisasinya. Ibu Soerjadi, ketua PMPS-YKW dan timnya sibuk menunjukkan berbagai artefak di museum. Bobbin NPY, ketua KIM Surabaya hilir mudik mengatur kelancaran acara.

Pada bagian teras dan taman di belakang, MKI-YKW telah pula menyiapkan panggung, sound system dan penataan meja-kursi yang cukup leluasa menampung 120 orang. Pada panggung itulah nanti direncanakan kegiatan sosialisasi, edukasi, hiburan dari narasumber kalangan tokoh, relawan, komunitas, seniman sesuai dengan keahlian dan bidang minat masing-masing bagi masyarakat.

Kegiatan rutin Museum Kanker Indonesia-YKW setiap hari Senin s/d Jumat buka Pk. 08.00 s/d 21.00, sedangkan hari Sabtu dan Minggu buka Pk. 09.00 s/d 17.00. Pada lokasi ini juga terdapat pelayanan Pusat Deteksi Dini & Diagnostik Kanker bagi masyarakat yang membutuhkan. Sedangkan akses internet dapat dilihat di www.museumkankerindonesia.com.

Selengkapnya...

14/8’15. Pengurus Museum Kanker Indonesia dari Yayasan Kanker Wisnuwardhana (MKI-YKW) dan beberapa tokoh relawan dan pegiat komunitas di Surabaya sedang melaksanakan rapat konsolidasi  “GATHERING MKI-YKW, Launching Kesekretariatan Bersama ‘HALTE RELAWAN’ & ‘RUMAH KOMUNITAS’” di kantin jalan Kayun 16-18, Surabaya. Acara ini akan dilaksanakan di MKI-YKW pada hari Minggu, 1 Agustus 2015, Pkl. 10.00.

Rr. Hendriana Maharani yang akrab dipanggil ibu Anna, ketua dari MKI-YKW menjadi tuan rumah bagi pertemuan ini mengatakan, “Gathering MKI-YKW ini dilaksanakan sebagai sarana silahturahim bagi kita, juga sebagai bentuk ucapan terimakasih bagi semua pihak yang telah mendukung keberadaan museum kanker satu-satunya di dunia ini”

Anna yang juga menjadi seorang survivor kanker payudara selama 24 tahun dan telah melakukan 6 kali operasi selanjutnya menyampaikan bahwa, “Kami juga menyambut baik niat kawan-kawan relawan dan komunitas kota Surabaya untuk membentuk kesekretariatan bersama. Meski dengan segala keterbatasan dan kekurang yang ada, kami berkomitmen untuk membantu dalam bentuk tempat yang dapat dipakai sebagai kantor dan ruang pertemuan.”

Ananto Sidohutomo, budayawan yang juga dokter dan sekaligus Founder Museum Kanker ini mengatakan, “Kota Surabaya sedang menuju peradaban madani, tentu sangat memerlukan peran aktif dan kepedulian dari masyarakatnya. Berbagai bentuk kerelawanan dan kegiatan komunitas memerlukan jejaring yang baik diantara mereka guna membantu mencapai tujuan sesuai bidang dan minat masing-masing. Itulah tujuan utama dari membangun kesekretariatan bersama ini.”

Nama yang tak asing lagi bagi masyarakat adalah Andreas Eko Muljanto atau akrab dipanggil mas Leo dari Relawan Surabaya, akan mengemban amanah untuk mengawal keberadaan Halte Relawan. Sedangkan Ririe Suhadi, presiden Bidadari mendapat peran mengawal keberadaan Rumah Komunitas. Sampai saat ini telah ada lebih dari 70 nama organisasi dan komunitas yang siap berjejaring di kesekretariatan bersama halte relawan dan rumah komunitas di Jl. Kayun 16-18, Surabaya.

Selengkapnya...
© Copyright 2013 portaljatim.com, All Rights Reserved | Designed by: Jasawebsite.com