A+ A A-

GLADI BERSIH MONOLOG PERTEMPURAN BENDERA 19 SEPTEMBER 1945

Beri rating berita ini
(3 votes)

 

16/09'15. Dua belas orang merayap menaiki tangga vertikal sampai di Menara Bendera Hotel Majapahit. Mereka adalah Ananto Dkk yang malam ini akan mengadakan Gladi Bersih Monolog Pertempuran Bendera 19 September 1945. Setibanya di roof-top, mereka segera melakukan aktifitas gladi bersih sekaligus saling berkoordinasi.

            Ananto Sidohutomo, Budayawan yang juga seorang dokter untuk ketiga kalinya akan melaksanakan “MONOLOG PERTEMPURAN BENDERA 19 SEPTEMBER” di Situs Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit Surabaya, Sabtu, 19 September 2015, pukul 20.00-21.00. Ini membuktikan bahwa komitmennya untuk kegiatan ini secara konsisten akan dilaksanakan terus.

            Dibandingkan tahun sebelumnya, angin yang kecepatannya saat ini dapat mencapai 35-40 km/ jam tentu menjadi kendala serius yang mesti dihadapi. Saat Gladi bersih yang dilaksanakan Rabu malam, 16 September 2015, dengan posisi tubuh miring masih relatif dapat mempertahankan berdiri dengan baik, namun bila tubuh tegak akan membuat terhuyung dan terangkat sesuai arah angin.

            Saat berkegiatan tersebut, Ananto menjaga diri mengikatkan tubuhnya dengan tali menjadi satu dengan tiang bendera Merah-Putih. “Tali ini menjaga keselamatan supaya tidak terlempar karena derasnya angin, sekaligus membuat perasaan saya menjadi lebih tenang karena merasa menyatu dengan Bendera Merah Putih yang berkibar,” ujarnya.

            19 September, sejatinya kita memperingati dan mengenang nilai-nilai kepahlawanan yang ditunjukkan Arek-arek Surabaya yang berani mengorbankan jiwa raganya dengan bertempur melawan Sekutu. Kisah ini dikenal sebagai pertempuran pertama-kalinya pihak Republik Indonesia melawan agresor asing yang ingin menduduki wilayah RI pada 70 tahun silam.

            Kejadian ini menunjukkan bahwa Arek-arek Surabaya dari berbagai latar belakang masyarakat, pendidikan, profesi, status telah berhasil kompak untuk memberi inspirasi dan contoh kepada seluruh rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Pertempuran bendera ini diikuti pertempuran lain di seluruh wilayah RI untuk mengusir musuh, seperti pertempuran 28, 29, 30 Oktober dan 10 Nopember 1945 di Surabaya, Palagan Ambarawa, Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, Bandung Lautan Api, Pertempuran Medan Area, Pertempuran Margarana di Bali, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang dan Pertempuran Lima Hari di Semarang.

            Pertempuran ini terjadi karena pihak Agresor Asing mengibarkan bendera mereka di wilayah kedaulatan RI. Arek-arek Surabaya tidak terima dan marah, lalu bertempur, menurunkan bendera mereka, merobek warna biru dan mengibarkan Sang Saka Merah-Putih (Sang Dwi Warna). Saat itu dikenal sebagai pertempuran bendera yang selanjutnya dikenal pula dengan nama pertempuran “Insiden Bendera”. Lokasi pertempuran menaikkan bendera merah-putih itu berada di Situs Menara Bendera sisi Utara Yamato Hoteru (sekarang Hotel Majapahit) di Jl Tunjungan 65, Surabaya.

            Monolog oleh Ananto yang juga sastrawan di Situs Menara Bendera sisi Utara Hotel Majapahit itu memiliki tantangan ekstrem lain. Menara Bendera itu sendiri terletak di ketinggian lebih 20 m dpl (dari permukaan laut), memiliki ruang gerak (block) hanya 0,8m X 2m. Kesulitan lainnya adalah faktor berangin kencang rerata 40 km/ jam serta dapat secara mendadak menjadi 60 km/ jam. Ketinggian dan sulitnya mempertahankan posisi berdiri tentu menimbulkan perasaan gamang.

Ananto mengakui beratnya tantangan melakukan monolog tersebut. ”Monolog sebagai bagian dari seni peran teater saja sudah merupakan tantangan berat tersendiri, paling tidak harus dapat mengalahkan diri sendiri untuk melakukannya, apalagi dilaksanakan di medan yang ekstrem tinggi seperti itu, perlu pengamanan ekstra”.

            Sebagai gambaran penampilan monolog yang sama oleh dr Ananto tahun lalu, hasil dokumentasi para fotografer baik penghobi, professional dan media, arah kibaran bendera berubah terus hingga menghadap ke enam arah. Dari rekaman video juga dapat disaksikan gerak refleks yang harus dilakukannya ketika terpaksa berpegangan pada tiang bendera karena hembusan angin kencang yang menerpa tubuh. “Karena itu selain harus menguasai materi monolog itu sendiri kru juga memperhatikan betul faktor keamanan di area monolog agar pergelaran lancar dan sukses. Ini tantangan yang makin membuat saya semangat melakukannya,” katanya.

            Tentang komitmen melakukan monolog tersebut, Ananto menjelaskan jika niat utama menggelar acara ini adalah untuk membangkitkan kembali nilai-nilai patriotisme dan kepahlawanan, semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang berprinsip mempertahankan NKRI dan Pancasila. “Selain itu juga mentransformasikan nilai-nilai keindahan dari perjuangan, kerelawanan, dan patriotisme  Arek-arek Surabaya. Momen ini harus terus diingatkan kepada generasi sekarang dengan berbagai cara agar makin dimaknai nilainya, sehingga ke depannya juga tetap akan terpatri di hati masyarakat,” terang suami dari dr Etty HK, SpPA. itu.

            Bila dikaitkan dengan sejarah bangsa, Ananto mengatakan jika kita dan generasi penerus perlu belajar dari sejarah yang benar dan apa adanya. “Sebab bila keliru memaknai sejarah, kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang maju. Hanya bisa berkali-kali tergelincir dan jatuh di lubang yang sama. Musuh terberat kita bukan yang dari luar sana, melainkan dari dalam diri kita sendiri,” katanya.

            Saat monolog, bapak empat anak ini didukung penampilan beberapa musisi muda seperti Muhammad Alim A. (17 th) yang saat usia 15 tahun telah menciptakan lagu Ibu Pertiwi, Fileski (biolist musikalisasi puisi), Rachmad Utojo S (seniman), Bokir G. Kalaribu (seniman), Deanandya, Arif A, Ariq A., Panji Walujo. Mereka memainkan komposisi baru karya sendiri dan berkolaborasi dengan Ananto.

            Ananto saat tampil ternyata melibatkan pula seluruh keluarganya, istri dan ke empat anaknya. Mereka semua bahu membahu membantu terlaksananya acara ini. “Salah satu nilai yang penting adalah kenyataan bahwa budaya itu berasal dan berawal dari keluarga kita. Merekalah yang menjadi satu alasan penting bagi saya melakukan monolog ini. Tentulah demi masa depan generasi penerus bangsa,” katanya mantab.

            Atas terselenggaranya acara ini, Ketua Panitia Bobbin Nila PY, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung. Terutama pihak Hotel Majapahit Surabaya yang sudah tiga kali menyilakan lokasi bersejarahnya menjadi ajang pergelaran yang bernilai sejarah itu. “Saya mengimbau pada Arek-arek Surabaya untuk ikut datang menyaksikan acara sekaligus mengenang pertempuran “Insiden Bendera” di Jl Tunjungan. Jika tak keberatan kami mengharapkan untuk membawa bendera atau atribut merah putih serta berpakaian rakyat saat itu, ketika acara monolog digelar,” tandasnya.

 

Catatan:

Bendera adalah Simbol Negara, kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa pada sebuah wilayah.

Di dunia telah banyak perang yang dilakukan dengan simbol bendera yang dikibarkan di sebuah wilayah yang berhasil diduduki. Contoh pertempuran di Iwo Jima: lebih 20 ribu tentara Amerika tewas dan terluka, sedangkan 20 ribu tentara Jepang tewas. Sampai saat ini bangsa Amerika merayakan pesta kemenangan bangsanya dengan memperingati hari tersebut. Kenangan terhadap pertempuran tersebut adalah momentum saat perjuangan beberapa prajuritnya mencoba mengibarkan bendera di wilayah negara lain tersebut.

Surabaya memiliki peristiwa PERTEMPURAN BENDERA yang juga patut diperingati dan memiliki nilai patriotisme dan kepahlawanan yang lebih baik. Seharusnya dengan lebih gegap gempita mengingat dilakukan untuk mempertahankan eksistensi bangsa kita dan diakhiri dengan kemenangan yang ditandai dengan berkibarnya Merah Putih saat pertempuran tersebut di wilayah kita yang diserang agresor asing.

 

Monolog Pertempuran Bendera ini disiarkan langsung oleh Prima Radio 103,8 FM, 19 September 2015, jam 20.00 s/d 21.00.

Berita Terkait

© Copyright 2013 portaljatim.com, All Rights Reserved | Designed by: Jasawebsite.com