A+ A A-

 

19/09'15. Kemeriahan Pesta Rakyat Arek Surabaya dalam acara bertajuk "MONOLOG PERTEMPURAN BENDERA 19 September 1945" yang dilaksanakan untuk ke tiga kalinya oleh Ananto Sidohutomo dkk. berlangsung aman dan tertib. Kegiatan yang berlokasi di Situs Cagar Budaya Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit, di jalan Tunjungan, Surabaya, Pk. 20.00 s/d 21.00 diikuti oleh ribuan Arek Surabaya dari berbagai macam organisasi kerelawanan dan komunitas yang berbaur menjadi satu dan disaksikan oleh puluhan ribu orang yang sedang melewati jalan Tunjungan.

"Peringatan ini untuk mengenang, mencari kembali dan mengaji jiwa patriotisme, saat kakek nenek moyang kita melaksanakan Pertempuran pertama kalinya mempertahankan RI yang telah merdeka. Sekaligus pertempuran inilah yang menginspirasi perlawanan selanjutnya bangsa Indonesia di seluruh wilayah republik, bahkan di seluruh Asia Afrika. Pertempuran Bendera ini juga satu-satunya pertempuran yang dimenangkan oleh kita." ujar Ananto

Ananto, budayawan yang juga seorang dokter tampil bermonolog di puncak menara bendera. Tempat sempit seukuran 0.8 x 2 m, dan tinggi tersebut diisi penuh berbagai macam alat dan perlengkapan hingga tak memungkinkannya bergerak leluasa. Tubuhnya pun mengenakan harness, dan terikat dengan carmantel/ wibing melalui carabiner pada tiang bendera untuk safety. Saat ini kecepatan angin deras menerpa 35-40 km/ jam serta dapat berganti arah. Angin tersebut dapat mendorongnya terlempar dari menara.

Tampilan ke tiga Monolog Pertempuran Bendera ini dilakukan Ananto bersama istri dan ke empat anaknya serta dukungan dari musisi Muhammad Alim A. (17 th yang saat usia 15 th menciptakan lagu Ibu Pertiwi), Fileski (Biolist dan pemusikalisasi puisi), Rachmad Utojo Salim (seniman dan ketua komunitas Tunjungan Ikon Surabaya), Bokir G. Kalaribu (Seniman gaek Surabaya), Panji Walujo dan Aldi. Semuanya menampilkan karya asli ciptaan sendiri.

"Pemeran utama atau lakon dalam pementasan ini adalah Pelaku Pertempuran Bendera 19 September 1945 itu sendiri, bukan kami. Kita semuanya disini adalah pemain pendukung semata. Semoga jiwa raga Merah Putih para patriot bangsa itu dapat kami raih untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sesuai harapan mereka." tandas Ananto.

Acara Monolog Pertempuran Bendera ini juga diapresiasi oleh Pengurus dari Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Personil DKJT yang dikomandani ketuanya, Taufik Monyong, hadir bersama anggotanya dengan mengendarai mobil jeep kuno lengkap dengan persenjataan. Sedang dari DKS, Sekjen Luhur Kayungga, Toga Sidauruk dan lainnya nampak ikut naik sampai di Garden Roof.

Tokoh-tokoh Surabaya juga tak mau kalah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Beberapa diantaranya bahkan sejak sore telah terlihat hadir. Nampak Yousri Adam, Ismet Rahma yang bersemangat membawa dan membagikan 500 bendera tangan dan memasang 4 bendera Jumbo di jl. Tunjungan, Disbudparta Jatim, Peneliti muda Rintoko dan Ifah.

Komunitas dan Relawan yang juga terlibat aktif dalam acara ini adalah Komunitas CB 150R yang dikoordinir oleh Roy Krisnoatmodjo, KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia) yang diketuai oleh Slamet, Relawan Surabaya (RESU) yang dikomandani oleh Andreas Eko Mulyanto, Bidadari, Tunjungan Ikon Surabaya (TIS), Senopati, KSorbis, Komunitas Bisa Menulis, Parikan Edan Surabaya, Komunitas EGAF, Cak & Ning Surabaya, serta berbagai organisasi budaya dan masyarakat lain.

Pesta Suara Rakyat juga dilakukan serangkai dengan acara ini bertempat di depan gedung BPN. Sound-system dinyalakan Pk. 19.00 s/d 20.00, selanjutnya dimatikan melihat Monolog di atas Hotel Majapahit, dan dinyalakan kembali Pk. 21.00 s/d selesai. Panggung dimeriahkan oleh berbagai narasi, musik, pembacaan puisi dll. Masyarakat memanfaatkannya untuk beraktualisasi diri mengenang pertempuran bendera 70 tahun silam. Secara sukarela, mereka membawa atribut peralatan electone, gitar, bahkan musik tabuhan.

Tentang tahun 2016 nanti, Ananto mengatakan harapannya, "Semoga Festival Bendera Merah Putih dapat terselenggara selama sebulan penuh di bulan September. Tunjungan akan berhias Merah-Putih dan disepanjang jalan Tunjungan maupun di persil-persil nanti terdapat kegiatan rakyat yang bertemakan Merah-Putih. Bila didukung oleh Pemkot dan Pemda Tk I Jatim, ini bahkan dapat menjadi satu ikon pariwisata dunia."

Tentang rencana memperingati 10 Nopember nanti, Ananto berkomentar, "Sebaiknya kita melakukan doa bersama untuk rakyat Arek Surabaya yang telah gugur mendahului kita akibat bombardier sekutu dari laut dan udara. Hari itu kita berduka karena merupakan saat jatuhnya Surabaya ke tangan Sekutu sampai dikembalikan lagi pada tahun 1950, setelah adanya konferensi Meja Bundar di Belanda."

Selengkapnya...

SURABAYA, PortalJatim.com- Terkenal dengan kekayaan alam dan hasil tambangnya ternyata tidak menjadikan masyarakat Indonesia sejahtera. Hal ini bertentangan dengan amanat UU 1945 pasal 33 ayat 3.

Selengkapnya...

SURABAYA, PortalJatim.com- Maraknya penyelundupan khususnya segala jenis barang yang memiliki fungsi ganda mendapatkan perhatian Departemen Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Selengkapnya...
© Copyright 2013 portaljatim.com, All Rights Reserved | Designed by: Jasawebsite.com