A+ A A-

 

Minggu, 12 Maret 2017, ratusan masyarakat memenuhi lokasi di jl. Kayoon 16-18, Surabaya dalam rangka penyelengaraan PASAR SYAR'I "KAYOON 1618". 

Mereka saling bersilahturahim, berjualan dan membeli diantara sesama pengunjung. Sekaligus mempraktekkan pelaksanaan perekonomian syariah di masyarakat.

"Bahkan sesaat sebelum azan dhuhur, semua lapak telah menghentikan kegiatan perdagangan untuk persiapan menunaikan ibadah sholat." kata santi, panitia

Tausiah Bisnis dengan judul, "Menjual Produk Paling Sesuai Kebutuhan Pembeli" disampaikan dr. Ananto Sidohutomo, MARS., konsultan bisnis dan mendapat perhatian serius dari ratusan peserta.

Ananto menyampaikan tujuan dari diselenggarakannya Pasar Syar'i adalah dalam rangka penyampaian Dakwah dan Syiar, sekaligus mengedukasi generasi kita, anak dan cucu kita tentang mekanisme pasar syariah. Selain itu menjadi ajang silahturahim antara pedagang dan pembeli, termasuk melakukan pemetaan potensi produksi muslim.

"Setelah mendengar tausiah dan diskusi tadi, ternyata yang paling dibutuhkan umat adalah air minum, dan bisnis ini tidak dilaksanakan dan dikuasai oleh kami," jelas dimas dan wildan bersamaan.

Acara ini semakin menarik diikuti ketika untuk anak2 dilaksanakan juga lomba menggambar dan mewarnai dimana semuanya mendapatkan hadiah.

Kegiatan pasar syar'i di kota Surabayaa diharapkan dapat menginspirasi penerapan perekonomian syariah di kota dan kabupaten se-Indonesia yang telah bergabung di Komunitas Ekonomi Syariah. (Ant)

 

Selengkapnya...

 

Hari Kamis, 9 Maret 2017, bertempat di kesekretariatan KESNas. di jl. Kayoon 16-18, Surabaya, telah dilaksanakan Pelantikan Komunitas Ekonomi Syariah Daerah Surabaya (KESDA Surabaya).

"Komunitas Ekonomi Syariah Nasional lahir dari rahim energi 212 yang memiliki spirit, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain", tutur Doddy Eka Putra, Ketua KESNas. Disela acara.

Kesda Surabaya dibawah kepemimpinan Mintardjo, sekretaris Yahya dan Bendahara Miftah diharapkan dapat melakukan percepatan kebangkitan pelaksanaan ekonomi syariah di kota Surabaya.

Salah satu kegiatan nyata dalam waktu dekat adalah mensukseskan pelaksanaan Pasar Setu Kayoon pada hari Minggu, 12 Maret 2017, mulai jam 9 sampai jam 15. Tujuan utamanya adalah silahturahim antara pelaku ekonomi syariah sambil melakukan jual beli diantara sesama muslim. (Ant)

Selengkapnya...

Monolog ke IV “Pertempuran Bendera”, 2016

 

 (Dalam rangkaian FESTIVAL MERAH-PUTIH I)

oleh Ananto Sidohutomo, Dr. MARS.

Situs Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit, Surabaya,

Senin, 19 September 2016, pukul 20.00

Acara tahunan Arek-arek Rakyat Surabaya ini telah memasuki tahun ke empat dan semakin mendapat dukungan masyarakat luas. Untuk kegiatan ini siang tadi dilaksanakan Jumpa Pers di R. Bromo, Hotel Majapahit oleh Cak Ananto, Cak Yoyok, Cak Boni, Ning Ririe, Ning Nidia dkk. penyelenggara dan Cak Hendrick mewakili pihak Hotel Majapahit Berikut ini keterangan pers yang dihimpun tentang kegiatan tersebut.

Cak Ananto menuturkan, "Pemeran Utama atau lakon'e kegiatan ini adalah para Patriot Bangsa Arek-arek Suroboyo yang gugur, bersimbah darah dan keringat dalam peristiwa Pertempuran Bendera 19 September 1945 di Jl. Tunjungan, Surabaya. Kita semua disini hanyalah pemeran pembantu semata. Kegiatan ini adalah Silahturahim Patriot Surabaya yang tulus ihlas hadir untuk mewarisi semangat patriotisme Merah-Putih Jiwa-Raga kami, para leluhur kita".

Tujuan:

1. Mengenang, menghormati dan mesuri-tauladani semangat patriotisme Arek-arek Rakyat Surabaya yang gugur, terluka, bersimbah darah dan keringat dalam pertempuran Bendera 19 September 1945.

2. Menumbuh-kembangkan nilai-nilai dan semangat patriotisme,  kebangsaan, nasionalisme, budaya dalam mempertahankan NKRI. Mempersatukan dan meningkatkan semangat anak bangsa dalam Simbol Negara Merah-Putih Jiwa-Ragaku.

3. Menciptakan Tunjungan Ikon Surabaya (budaya pariwisata) kepada dunia.

Monolog ke IV “PERTEMPURAN BENDERA”

Kegiatan ini dilakukan oleh Ananto Sidohutomo (budayawan) pertamakali pada 19 September 2013, rangkaian upaya “Njejegno Tunjungan Ikon Surabaya”. Monolog ini kemudian menjadi agenda rutin yang semakin diminati arek-arek Surabaya sampai yang ke IV tahun 2016 ini.

Monolog ini memiliki tantangan ekstrem. Menara Bendera yang menjadi panggungnya terletak di ketinggian lebih 20 m dpl (dari permukaan laut), memiliki ruang gerak (block) hanya 0,8m X 2m, serta berangin kencang. Ketinggian dan sulitnya mempertahankan posisi berdiri menimbulkan tantangan dan perasaan gamang.

PERTEMPURAN-BENDERA 19 September 1945 di Jl, Tunjungan, Surabaya ini adalah:

1. Pertempuran Pertama R.I. melawan agresor asing/ penjajah, yang menjadi inspirasi awal dan diikuti seluruh Bangsa Indonesia lainnya.

2. Pertempuran penuh semangat Patriot ini dilakukan Arek-arek Surabaya/ rakyat  guna mempertahankan Kemerdekaan, kedaulatan dan keutuhan N.K.R.I.

3. Dikenang sebagai satu-2nya pertempuran bendera yang dimenangkan oleh Arek-arek Rakyat Surabaya.

Pertempuran terjadi karena pihak agresor asing/ penjajah mengibarkan bendera mereka di wilayah kedaulatan R.I. Ribuan Arek-arek Surabaya tidak terima dan marah. Siang hari, dengan semangat dan jiwa patriotisme yang tinggi, Arek-arek Surabaya menyerbu dan bertempur, hingga akhirnya berhasil naik ke puncak tertinggi tiang bendera, merobek warna biru dan berkibarlah Sang Merah-Putih. Lokasi berkibarnya bendera itu pada Situs Menara Bendera sisi Utara Yamato Hoteru (sekarang Hotel Majapahit) di Jl Tunjungan 65, Surabaya.

Meski kajian sejarah belum dilakukan, namun banyak pihak meyakini puluhan bahkan ratusan patriot Arek Surabaya telah gugur memenuhi janjinya kepada Ibu Pertiwi. Belasan bahkan puluhan musuh pun terkapar tewas serta ratusan lain yang terjebak di hotel dan gedung BPN bertahan dalam ketakutan. Sore menjelang, barulah patriot yang gugur di makamkan. Lagu Indonesia Raya pun dilantunkan dan dikumandangkan sampai malam.

Arek-arek Surabaya setelah pertempuran itu berjaga bergantian di sepanjang jalan Tunjungan untuk memastikan sang Merah-Putih tetap berkibar.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengingat sejarahnya, maka monolog ini membuktikan dan menjadi pengingat kita untuk selalu JASMERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Monolog ini bentuk nyata bahwa kita sedang membangun negeri & bangsa yang besar.

Patriotisme semangat Merah-Putih Jiwa-Raga leluhur bangsa telah tunai diuji dan lulus, serta akan menjadi suri tauladan untuk kita generasi berikutnya.

FESTIVAL MERAH-PUTIH I

Bertujuan menjadikan Merah-Putih sebagai simbol negara yang akan menjadi perekat jiwa-raga seluruh anak bangsa. Keinginan kedepannya adalah dalam sebulan penuh seluruh kawasan Tunjungan dipenuhi atribut Merah-Putih serta setiap persil yang ada disana berkontribusi aktif dalam menyelenggarakan kegiatan apapun yang bertema Merah-Putih di tempat masing-masing.

Tahun 2016 ini ada beberapa kegiatan yang bertemakan Merah-Putih. Khusus 19 September 2016 dilaksanakan di 3 venue dan acara yang berbeda.

1. Monolog ke IV “PERTEMPURAN BENDERA” di Situs Puncak Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit, Tunjungan, Pk. 20.00-21.00

2. Panggung Orasi & Budaya “MERAH-PUTIH AREK-SUROBOYO” di depan Gedung BPN (Badan Pertanahan Nasional), Tunjungan, Pk. 16.00 s/d 22.00

3. Panggung Orasi 3 Menitan Tokoh Surabaya “MERAH-PUTIH JIWA-RAGAKU” di Flag Terrace/ Teras Bendera di Lt II Hotel Majapahit, Tunjungan, Pk. 18.00-20.00

Materi Monolog:

Merah-Putih telah dikenal lama di masa lampau sebagai simbol Pataka, Dwaja, Bendera, umbul-umbul dan disebut pula sebagai Pataka/ Sang Saka Gula-Kelapa, Sang Getih-Getah, Sang Jingga-Pethak, Dwaja Abang-Putih.

1. Dinasti Syailendra, Relief di Candi Borobudur dan Mendut yang menggambarkan 3 hulubalang mengibarkan pataka 2 warna (700 M). Catatan menunjukkan berasal dari bunga Tunjung Mabang dan bunga Tunjung Maputeh.

2. Era Kediri, Panji-panji Merah-Putih

3. Era Majapahit, bendera kerajaan, umbul-2 Abang-Putih, Prajurit Getih-Getah, Gulo Klopo

4. Jangan heran bila Merah Putih 13 abad lalu berasal dari Bunga Tunjung Mabang-Maputeh, lalu membuat Arek-arek Surabaya bertarung tgl 19 September 1945 mengibarkan bendera Merah-Putih di jalan Tunjungan.

5. Sekarang kita yang berada di jalan Tunjungan, Surabaya menggenggam erat Merah-Putih…, yang menyatu dengan Jiwa-Ragaku.

Sejarah Bangsa

Pada tanggal 28 Oktober 1928, mereka para pemuda-pemudi yang mewakili seluruh daerah-daerah  bersumpah bersama yang isinya,

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia

Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Hingga pada tanggal 28 Oktober 1928 ini adalah dikenal dan dikenang sebagai saat lahirnya Bangsa Indonesia.

Proklamasi,

Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945,

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/ Hatta

Bangsa kita memproklamirkan kemerdekaannya tanpa pertumpahan darah. Pertempuran pertama kali R.I. yang penuh patriotisme dan menyebabkan gugurnya patriot Indonesia terjadi di Tunjungan, Surabaya pada tanggal 19 September 1945.

Mewarisi semangat patriotisme “Merah-Putih Jiwa-Ragaku” para pahlawan di Surabaya, kita bersama-sama akan membangun Indonesia lebih baik di masa mendatang.

Ibu Pertiwi

Saat ini lihatlah Ibu Pertiwi yang menangis dan berlara hati. Menangis karena berharap tambang dan kekayaan bumi dikuasai Merah-Putih. Menangis karena warna Merah-Putih telah banyak bertambalkan warna-warni bendera bangsa lain.

Beliau sebenarnya ingin segera memandikan anak-anaknya dengan sabun, odol dan shampo Merah-Putih. Membekali mereka saat tumbuh dengan pendidikan yang dikemas sesuai kearifan bangsa, menulis memakai pensil, ballpoint, kalkulator, handphone, laptop, komputer Merah-Putih.

Ibu Pertiwi juga berharap suatu saat kita bisa memproduksi mobil, motor, pesawat terbang, atau sepeda onthel dan otopet Merah-Putih.

Bila semua itu belum bisa terwujud, paling tidak Ibu Pertiwi berharap anak bangsa kita bisa kenyang dengan nasi, lauk-pauk, sayur buah Merah-Putih.

Mari seluruh anak bangsa, sekarang juga merapatkan barisan mempererat persatuan, mulailah merdeka dan mengisi kemerdekaan dengan merdeka memproduksi semua yang kita perlukan dan merdeka untuk berkarya sesuai cita-cita dan semangat Merah-Putih Jiwa-Ragaku.

Rangkaian Acara FESTIVAL MERAH-PUTIH I, ‘2016.

Kegiatan diawali dengan acara bertema “Merah-Putih Arek-Surabaya”. Bertempat di depan Gedung BPN sejak Pk. 16.00. Orasi, Aktualisasi Seni & Budaya ditampilkan kawan-kawan dari komunitas Tunjungan Ikon Surabaya, Karang Taruna RW IV Ketandan, KOSTI (Komunitas Onthel Sepeda Tua Indonesia) melakukan kirab bersepeda, SMK Dr. Soetomo menghadirkan band dan perkusi, komunitas Kansas, d’tabuhan, cak Karji jula-juli, HBC (Honda Bryo Club) berparade merah putih, dan spontanitas Arek-arek Surabaya.

Bertempat di Flag Terrace (Teras Bendera) di Hotel Majapahit pada Pk. 18.00 dilaksanakan kegiatan Orasi 3 (Tiga) Menitan Tokoh Surabaya bertema “Merah-Putih Jiwa-Ragaku”. (Cak Ipul, Wisnu, Armuji, Joni, Murpin, Isa Ansori, Taufik Monyong, Chrismanhadi, Sulistyanto, Sukowidodo, Daniel, Anton, Munir, Budy Rejeki, Indra)

Dokumentasi dilakukan oleh cak Anton dkk. dari SMK Dr. Soetomo Surabaya, ning Devina dkk. dari Untag serta bantuan dari relawan-relawan.

Tepat Pk. 20.00-21.00, kedua kegiatan dihentikan sejenak untuk bersama-sama memindahkan fokus di Situs Menara Bendera Sisi Utara Hotel Majapahit. Di tempat ini dilaksanakan Monolog “Pertempuran Bendera”.

Selain monolog yang dilakukan cak Ananto Sidohutomo, juga didukung tampilnya cak Alim, 18 th.  yang membawakan lagu cipta-karya sendiri saat berusia 15 tahun; cak Sugeng Ribowo dengan tabuhan bende dan bedug; tari tunggal oleh cak Wahyu, Ariq, 11 th. menyanyikan acapela lagu Ibu Pertiwi; cak Nur bermain biola; dan konduktor oleh ning Etty.

Acara monolog juga diisi dengan mengirimkan doa bagi patriot Arek Rakyat Surabaya yang gugur dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Kegiatan ini berakhir ketika cak Ananto telah menggenggam kain biru ditangan kiri sambil menunjuk Bendera Merah-Putih yang berkibar di puncak tiang bendera dengan diiringi gemuruh dan hingar bingar berbagai bunyi tabuhan, perkusi dan pekikan merdeka oleh ribuan penonton yang memenuhi trotoar jalan Tunjungan, Surabaya.

 

Acara ini didukung oleh Yayasan Jiwa Indah Bangsa, Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya, Hotel Majapahit,  Rumah Relawan & Komunitas, Kosti, CB 150R, SMK Dr. Sutomo, KOSTI, HBC, Karang Taruna Ketandan, Relawan Surabaya, berbagai komunitas dan organisasi serta perseorangan, sedangkan pemain dan panitianya adalah Cak Ananto, Yoyok Salim, Bobbin NPY, Alim, Arif, Ariq, Wahyu, Nur, Putut, Alik, Tri, Toha, Andri, Leo, Andhie, Tomy, Rintoko dll. Juga Ning Etty, Ririe, Nidia, Ifah, Devina,

 

(CP: dr Ananto Sidohutomo MARS, 0818302761)

 

 

 

 

 

 

Selengkapnya...
© Copyright 2013 portaljatim.com, All Rights Reserved | Designed by: Jasawebsite.com