A+ A A-

Aliansi Masyarakat Melawan Sekuritas Ajak Boikot Produk Perbankan

Beri rating berita ini
(0 votes)

SURABAYA, PortalJatim.com -  Aliansi Masyarakat Melawan Securitas mengajak masyarakat khususnya ratusan nasabah Brent Securitas untuk melakukan aksi boikot terhadap seluruh produk jasa keuangan bank dan non bank karena masih lemahnya pengawasan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melindungi kepentingan masyarakat.

Koordinator Aliansi Masyarakat Melawan Securitas Indra Harsaputra mengatakan aksi ini sebagai bentuk keprihatinan masyarakat atas kembali terulangnya kasus investasi lembaga keuangan perbankan dan non bank di Indonesia.

“Setelah kasus Bank Century dan Antaboga Securitas serta kasus yang melibatkan jasa di sektor keuangan. Harapan kita jangan ada kasus lagi di kemudian hari, “ katanya, Jumat (26/09).

Indra menambahkan hingga kini Brent Securitas belum membayarkan Medium Term Note (Surat Hutang Berjangka) kepada ratusan nasabahnya di Surabaya, Semarang, Jakarta, Kediri dan berbagai kota lainnya di Indonesia. Padahal sesuai perjanjian yang ditanda tangani di depan notaris, seharusnya nasabah sudah mendapatkan haknya.

“Nasabah beralasan percaya berinvestasi di Brent Securitas karena perusahaan itu berada dibawah pengawasan dari OJK. Jadi sejak awal nasabah lebih tahu nama Brent Securitas dibandingkan Brent Ventura, yang namanya banyak muncul di beberapa media massa pasca Brent melakukan wanprestasi,” tambahnya.

Apalagi Brent Securitas membuka kantor cabang di Surabaya dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Bahkan untuk menyakinkan nasabahnya, Brent Securitas melakukan recruitmen beberapa karyawan dari perbankan sebagai marketing lepas dengan imbalan komisi.

“Pertanyaannya dimana pengawasan yang seharusnya dilakukan intern perusahaan perbankan dan juga otoritas yang memperbolehkan karyawan perbankan menjual produk securitas dari perusahaan yang berbeda?,” tanya Indra.

Kemudian bagaimana bentuk tanggungjawab perusahaan securitas terkait masalah hukum UU Ketenagakerjaan serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor : 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

“Sepertinya bukan rahasia umum lagi jika marketing bank A memiliki pekerjaan menawarkan asuransi dan produk keuangan lainnya dari perusahaan berbeda. Seharusnya pihak perusahaan perbankan bisa mengevaluasi dan meningkatkan kesejahteraan karyawan di bank,” kata Indra.

Pada praktiknya di lapangan, marketing bank merupakan salah satu elemen penting dalam pemasaran produk perbankan. Terkadang nasabah lebih percaya kepada marketingnya dibandingkan perusahaan perbankan tempatnya dia bekerja.

“Ketika gagal bayar, nasabah dihadapkan dengan nama Brent Ventura yang pemilik saham terbanyak dipegang oleh Yandi Suratna Gondoprawiro (pemegang saham sebanyak 40.000 lembar saham di PT Brent Ventura) yang juga pemegang saham terbanyak di Brent Securitas,” katanya.

Padahal menurut keterangan dari OJK, Brent Ventura tidak masuk dalam pengawasan OJK. Sedangkan Brent Securitas sendiri telah mendapatkan izin usaha sebagai Pedagang Perantara Efek melalui Keputusan Ketua BAPEPAM No. KEP-19/PM/1992 tahun 1992, kemudian sebagai Penjamin Emisi Efek melalui Keputusan Ketua BAPEPAM No. KEP-15/PM/1992 tahun 1992, dan sebagai Manajer Investasi yakni PT. Brent Asset Management melalui Keputusan Ketua BAPEPAM - LK No. 01/PM/MI/2005 pada tanggal 17 Januari 2005.

Kini, ada beberapa nasabah dari Brent Securitas yang mengalami masalah psikis karena belum adanya tanggungjawab dari pihak Brent Securitas kepada hak-hak nasabahnya akibat masih carut marutnya pengawasan di bidang perbankan dan non bank yang dilakukan OJK.

“Seharusnya pengawasan dilakukan sebelum ada kejadian, bukan setelah kejadian dan menyuruh nasabah untuk lapor. Nasabah sendiri sudah banyak dirugikan dari kasus ini,” tutup Indra. (pra)

© Copyright 2013 portaljatim.com, All Rights Reserved | Designed by: Jasawebsite.com